Selasa, 22 September 2009

My Service Learning #4 : Analisis Masalah

Sedikit report dari perkembangan service learning kelompok kami adalah kami telah menyelesaikan pembuatan DFD dan ERD untuk sistem yang baru yang akan digunakan untuk mengganti sistem lama yang sudah berjalan di SMKN 11 Surabaya. Mungkin sebelum kita membahas lebih jauh, ada baiknya jika kita mengetahui analisis masalah menurut kelompok kami:
  • Jika ada buku baru tetapi data buku tersebut sudah ada (dalam artian ada copy buku yang baru), maka sistem tidak bisa menambahkan copy buku baru ini karena sistem menggunakan program Microsoft Access sederhana dan buku hanya disimpan dalam satu tabel. Sebagai akibatnya, jika ada buku baru yang merupakan copy dari buku lama masuk, maka sistem akan menganggap bahwa buku tersebut adalah buku baru dengan menambahkan nomor induk buku yang baru. Permasalahan ini sangat penting untuk segera diselesaikan karena perpustakaan ini tidak seperti perpustakaan umumnya yang hanya mempunyai satu copy buku saja, tetapi sebagian besar buku-buku yang ada di sini berasal dari pemerintah (dalam artian buku paket yang menunjang proses pembelajaran) yang tentunya akan sangat banyak copy buku terhadap satu judul.

  • Sudah ada software untuk menampilkan data pinjaman tetapi hal ini masih sulit dilakukan karena tidak bisa menampilkan data buku yang dipinjam oleh anggota tertentu sehingga agak sulit untuk melihat buku mana yang dikembalikan. Mungkin sejauh ini belum jadi masalah jika peminjam hanya sedikit, tetapi jika ada suatu waktu di mana jumlah buku pinjaman sangat banyak, maka penjaga perpustakaan akan kesulitan mencari buku mana dalam daftar pinjaman yang akan dikembalikan.

  • Belum adanya sistem katalog baik secara digital ataupun manual. Padahal katalog mempunyai peranan yang sangat penting dalam sistem perpustakaan.

  • Belum ada sistem untuk pemesanan buku sehingga anggota yang ingin meminjam buku yang sedang dipinjam oleh anggota lain harus sering-sering ke perpustakaan untuk mengecek keberadaan buku tersebut.

  • Dalam proses pembuatan laporan, penjaga perpustakaan masih melakukannya dengan cara manual. Dengan melihat data-data yang ada dalam database perpustakaan. Cara ini tentunya akan menghabiskan banyak waktu penjaga perpustakaan mengingat penjaga yang ada di perpustakaan ini hanya satu orang saja. Akan lebih efektif jika keberadaannya digunakan untuk mengatur bagian pemrosesan dan juga sirkulasi sedangkan laporannya akan dikerjakan secara otomatis.

Informasi dan diskusi lebih lanjut dapat Anda raih dengan mengunjungi http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Lentera - eLearning Through Petra

Sudah lama saya tidak lagi mengurus blog ini karena dalam minggu belakangan ini ada banyak sekali tugas yang harus dikerjakan dan juga karena keterbatasan internet di kampung halaman saya di Situbondo.

Kali ini sebelum saya membahas mengenai service learning saya, saya sedikit memberikan komentar untuk situs Lentera ini. Saya ingin membuka halaman Lentera dari kampung halaman saya, saya perlu menunggu waktu lebih kurang 10 menit. Tetapi ketika saya membuka situs lainnya termasuk blog ini, membuka halaman ini sangat cepat dibandingkan dengan membuka Lentera. Saya tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya, tetapi mungkin hal tersebut juga mempengaruhi peringkat Lentera di Google Rank. Mungkin jika kinerja servernya dipercepat, mungkin saja nanti akan lebih menunjang perankingan situs ini di Google akan semakin melejit. Karena terakhir saya buka sebelum liburan di Google dengan keyword Lentera, situs Lentera Petra ini masih menempati urutan 200 lebih, sekitar 270an.

Informasi lebih lanjut dapat Anda raih dengan mengunjungi http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Senin, 14 September 2009

G-Force Review

Nah satu lagi film yang akan diputar di cinema 21, tak lain adalah film animasi yang berjudul G-Force. Secara singkat menurut saya film ini lucu, tetapi tidak selucu Ice Age 3. Menurut saya hingga saat ini di tahun 2009, film yang terlucu adalah Ice Age 3.

Film ini menceritakan tentang 4 ekor hamster yang menjadi agen rahasia yang ingin menyelamatkan dunia dari ancaman robot yang dibuat oleh suatu perusahaan raksasa. Akan tetapi ada suatu permasalah di dalamnya, ada pihak-pihak tertentu yang tidak menginginkan keberadaan keempat agen ini hingga akhirnya mereka terpencar-pencar tetapi kemudian mereka bertemu lagi dalam misi penyelamatan mereka.

Tentu saja penjelasan saya masih umum dan kurang bisa menjelaskan makna film yang sesungguhnya, karena itu saya menganjurkan Anda untuk menonton film ini. Walaupun ada beberapa animasi yang terlihat tidak nyata (karena ini merupakan gabungan dunia manusia dan animasi), tetapi secara keseluruhan saya rasa film ini layak untuk ditonton. Gayanya cukup membuat kita bisa tertawa walaupun tidak sering tentunya.

Informasi lebih lanjut bisa dilakukan dengan mengunjungi http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Final Destination 4

Baru saja saya selesai menonton Final Destination 4. Kelihatannya film ini bagus mengingat kesuksesan Final Destination 3 lalu dan juga tingginya rating penonton di Surabaya Town Square dalam seminggu belakangan ini (karena masih ada di sana untuk sementara ini). Tetapi menurut saya film ini sedikit mengecewakan. Walaupun saya masih suka dengan efek-efek pembunuhannya yang kali ini bisa kita saksikan secara 3D, tetapi saya merasa ada beberapa adegan yang pembunuhannya kurang mantap efeknya (terlihat jika hal itu adalah animasi). Contohnya juga bagian kebakarannya dan bagian tubuh yang terpotongnya seperti animasi (kurang real), dibandingkan mungkin film sadisme lainnya yang jika ada urat nadi yang terpotong darahnya akan muncrat-muncrat, tetapi di sini hanya digambarkan merah-merah saja tanpa ada yang menyembur padahal proses kematian baru saja.

Tetapi secara garis besar film ini masih tetap asyik untuk dilihat. Durasinya juga cukup singkat, tidak sampai 1 jam 20 menit film ini sudah berakhir. Cocok bagi Anda yang suka akan hal-hal yang berbau kekejaman dan mungkin bagi Anda penggemar orang-orang psikopat.

Kamis, 10 September 2009

Using Outside Blog

Untuk tugas refleksi membuat blog mata kuliah Sistem Informasi Perpustakaan, saya rasa sudah baik jika kita menggunakannya di luar. Kalau kita memang ingin meningkatkan peringkat webometrics universitas kita, sudah selayaknya kita membuat blog dari luar, karena jika kita menggunakan blog yang ada dalam lentera, selain mungkin masih belum sempurna, saya rasa bot yang dikirim oleh search enginee masih belum bisa masuk karena memang halaman blog yang disetting hanya bisa dimasuki oleh mereka yang punya id saja, sedangkan jika kita berperan sebagai guest maka kita tidak akan bisa melihat blog yang kita tulis.

Keuntungan lain jika kita menggunakan blog di luar adalah akan semakin banyak tautan ke web Petra yang berasal dari luar. Tentunya tautan yang berasal dari luar akan dinilai lebih tinggi oleh search enginee daripada tautan yang berasal dari dalam. Selain itu kita juga bisa mengkustomisasi sendiri blog kita, suatu fasilitas yang mungkin masih belum dimiliki oleh lentera yang mungkin ke depannya bisa lebih dikembangkan.

Alasan lainnya yang juga sangat berhubungan dengan peningkatan webometrics adalah jika kita menggunakan blog luar maka kita bisa melakukan search enginee optimization (SEO) sendiri. Ini akan membuat peringkat web/blog kita meningkat. Jika peringkat blog kita meningkat, secara otomatis logikanya akan semakin banyak pengunjung yang masuk dalam web kita untuk mencari informasi yang tersedia, jika banyak yang mencari informasi ini lalu mengunjungi tautan yang kita buat, maka secara otomatis akan meningkatkan pula jumlah pengunjung web yang menjadi tautan tersebut sehingga web petra nantinya juga bisa semakin terkenal.

Perpustakaan Petra: Audio Streaming

Salah satu khayalan saya berikutnya yang mungkin bisa digunakan untuk memperlengkapi fasilitas perpustakaan Universitas Kristen Petra adalah pengadaan audio streaming. Mungkin memang hal ini masih sangat sulit untuk bisa dilakukan mengingat tingkat kejahatan yang berbau piracy di Indonesia ini masih sangat tinggi.

Tetapi ini tetap menjadi keinginan saya. Mekanismenya adalah Perpustakaan Petra membeli CD audio, lalu dishare bersama. File ini dikompres dan tidak bisa didownload oleh pengguna tetapi hanya bisa distreaming. Jadi bentuknya sama seperti Youtube atau juga iTunes Online Library, tetapi ini bentuknya adalah audio. Saya rasa tidak sulit untuk melakukan hal ini, tetapi mungkin kendalanya adalah sistem pengamanannya. Apalagi yang mungkin perlu diperhatikan adalah anak-anak dari jurusan kita sendiri yang kesukaannya adalah mencoba menemukan kelemahan suatu sistem lalu mengambil keuntungan dari dalamnya.

Jadi mungkin jika suatu saat sistem IT di perpustakaan sudah kuat, mungkin hal ini bisa dilakukan. Tetapi mungkin biaya yang dikeluarkan untuk perpustakaan kita setiap bulannya akan bertambah banyak karena juga tidak murah untuk membeli CD-CD audio ini. Diskusi lebih lanjut dapat kita saksikan di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Perpustakaan Petra: Koleksi Film

Satu hal lagi yang mungkin ingin saya soroti mengenai Perpustakaan Universitas Kristen Petra adalah masalah koleksi film. Saya merasa koleksi film dalam bentuk VCD maupun DVD yang dimiliki oleh perpustakaan kita ini masih sangat kurang. Banyak pun sebagian besar adalah VCD DVD yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan seperti National Geographic, Discovery Channel, dan sebagainya. Padahal menurut saya, VCD DVD seperti ini kurang menarik perhatian mahasiswa, walaupun saya pribadi suka akan VCD DVD yang seperti ini.

Menurut saya, salah satu cara agar pengunjung lebih banyak yang ke perpustakaan dan menggunakan fasilitasnya adalah dengan melengkapi media VCD DVD yang ada. Mungkin bisa ditambahkan film-film yang mungkin tidak perlu terbaru tetapi setidaknya cukup hot (pernah diputar di bioskop-bioskop Indonesia). Saya rasa jika perpustakaan kita seperti ini, mahasiswa akan sangat tertarik menggunakan perpustakaan dan sering berkunjung ke perpustakaan.

Jadi menurut saya, salah satu hal yang perlu ditingkatkan adalah dalam hal pengadaan VCD DVD. Kemudian tempatnya juga bisa diatur sedemikian rupa sehingga tidak tampak sangat tidak teratur koleksi VCD DVD yang kita punyai. Diskusi lebih lanjut dapat kita lihat di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Selasa, 08 September 2009

Librarian Blog #6 - A Library Weblog


Blog ini dibuat oleh Jassamyn West yang beralamatkan di http://librarian.net

Ada banyak hal-hal menarik tentang perpustakaan yang ditulis oleh Jassamyn West di sini. Hampir semua artikelnya berbau perpustakaan, walaupun mungkin ada juga yang bersifat pribadi. Temukan pemikiran kritisnya di sini. Saya rasa ilmunya sangat berguna bagi kita semua. Blognya pun hampir tiap hari terupdate dengan baik.

Informasi lebih lanjut dapat Anda temukan pada http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Librarian Blog #5 - Librarian's Rant


Ini juga merupakan salah satu blog yang cukup banyak membahas mengenai masalah perpustakaan. Blog ini dibuat oleh Louise Alcorn. Tetapi mungkin untuk sementara ini webnya masih belum aktif. Sebenarnya blog ini sudah berpindah dari http://lblog.jalcorn.net ke http://librariansrant.com, tetapi tampaknya masih ada trouble.

Mungkin teman-teman bisa memanfaatkan artikel-artikel terdahulunya. Ada banyak pikiran kreatif darinya tentang perpustakaan masa depan.

Informasi lebih lanjut dapat Anda temukan pada http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Librarian Blog #4 - Free Range Librarian


Blog ini dibuat oleh Karen G Schneider. Alamatnya ada di http://freerangelibrarian.net

Situs ini juga lebih banyak membicarakan masalah hal pribadi Karen G Schneider, karena mungkin blog ini bercampur dengan blog pribadinya. Tetapi ada juga banyak hal mengenai ilmu kepustakaan yang dapat kita ambil di sini. Saya juga menganjurkan Anda untuk membacanya karena juga terdapat beberapa artikel yang merupakan pemikiran kritisnya (yang dimungkinkan dia tentunya seorang pustakawan).

Informasi lebih lanjut dapat Anda temukan pada http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Librarian Blog #3 - Copyfight


Blog ini dibuat oleh Donna Wentborth, Ernest Miller, Elizabeth Rader, Jason Schultz, Aaron Swartz, dan Alan Woxelbalt. Alamatnya di http://copyfight.corante.com

Blog ini secara garis besar membahas mengenai isu-isu perpustakaan yang sekarang sedang beredar. Isu perpustakaan yang dimaksud bukan hanya perpustakaan fisik, tetapi termasuk juga mengenai peraturan buku-buku, kemajuan teknologi yang ada, intellectual property conflicts, teknis arsitektur dan inovasi, perkembangan masalah hak cipta, public and private interest, dan masih banyak hal lagi.

Informasi lebih lanjut dapat Anda temukan pada http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Librarian Blog #2 - 025.431: Beyond the Job


Ini adalah blog yang dibuat oleh Sarah Johnson dan juga Rachel Songer Gordon. Mulanya blog ini beralamatkan di librarycareers.blogspot.com, tetapi mungkin karena sudah cukup mapan, mereka bisa membeli domain sendiri dan saat ini berpindah alamatnya di http://www.beyondthejob.org/

Seperti judulnya, isi dari blog ini mudah ditebak. Tentunya blog ini berisi hal-hal yang menyangkut keprofesionalan kita sebagai pustakawan. Di sini ada artikel-artikel, saran-saran untuk mencari pekerjaan, kesempatan bekerja, dan berita lainnya serta ide-ide untuk mengembangkan karir kita di bidang pustakawan. Mungkin kita tidak terlalu butuh hal ini, karena mungkin kebanyakan bidang kita tidak di sini, tetapi saya tetap menganjurkan Anda untuk sedikit banyak melihat-lihat isinya karena pasti akan ada manfaatnya dalam service learning kita kali ini.

Informasi lebih lanjut dapat Anda temukan pada http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Librarian Blog #1 - 025.431: The Dewey blog


Ini adalah blog yang isinya memuat informasi-informasi yang mungkin ingin kita ketahui tentang sistem penomoran Dewey. Blog ini ditulis oleh Jonathan Furner dan juga beberapa member lainnya dari Dewey editorial team. Bukan saja topik-topiknya berhubungan dengan DDC (Dewey Decimal Classification), tetapi juga berhubungan dengan pengetahuan organisasi Dewey.

Informasi lebih lanjut dapat Anda temukan pada http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Librarian Blog

Tampaknya kita juga perlu membaca blog-blog yang ditulis oleh orang-orang lain yang juga berhubungan dengan perpustakaan. Selain mungkin juga bisa menambah pengetahuan kita, mungkin kita bisa juga mendapatkan koneksi untuk mungkin kita bisa mengembangkan perpustakaan kita.

Mungkin untuk ke depannya, di blog ini juga akan dibahas mengenai blog-blog apa saja yang kira-kira bisa berguna untuk kita baca. (ini bukan berarti kehabisan bahan lho... masih banyak wawancara yang belum diproses, tetapi ya biar blog ini isinya jangan begitu-begitu saja... ^^).

Mari kita buat Petra maju melalui blog kita. Informasi lebih lanjut dapat dilihat di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Senin, 07 September 2009

My Service Learning #3: Buku Sekolah Elektronik


Saat saya sedang mencari-cari mengenai buku-buku gratis yang mungkin bisa saya dapatkan untuk membantu pengembangan perpustakaan tempat di mana saya akan melakukan service learning nantinya, saya menemukan situs yang dibangun oleh Departemen Pendidikan Nasional yang menyediakan buku sekolah elektronik yang bisa didownload secara gratis.

Mungkin kita bisa menggunakan koleksi buku-buku ini untuk mengembangkan perpustakaan di tempat saya akan melakukan service learning. Di SMKN 11 sudah terdapat komputer, tinggal bagaimana kita bisa lebih memberdayakan penggunaan komputer ini. Jika kita mempunyai keterbatasan dalam buku-buku dalam bentuk hardcopy, mengapa kita tidak mencoba mengembangkan untuk buku-buku yang sifatnya softcopy? Mungkin memang tidak semua siswa bisa membacanya jika menggunakan bentuk softcopy, tetapi setidaknya ada tambahan media dan jika swaktu-waktu ingin menggunakan dan membutuhkan, langsung tersedia dalam database elektronik

Perpustakaan Petra: Internet Area

Menurut saya, jika di perpustakaan ditambahkan area untuk kita bisa tersambung dengan internet, mungkin pengunjung perpustakaan akan bertambah banyak. Selama ini kita masih menggunakan fasilitas qifi untuk bisa terhubung dengan internet, tetapi tampaknya fasilitas wifi yang didapat di perpustakaan ini masih sangat minim. Saya rasa jika kita bisa menyediakan tempat untuk LAN mungkin akan bisa lebih efektif.

Jadi singkatnya, menurut saya perpustakaan tinggal menyediakan tempat (mungkin bisa berupa meja-meja yang sudah ada) tetapi ditambah dengan kabel LAN dan juga koneksi listrik sehingga bisa digunakan untuk laptop. Mungkin jangan diberi akses internet keluar, tetapi cukup akses internet dalam saja, jadi bisa untuk mencari buku dan juga online journal. Saya rasa jika ada dua fasilitas ini, kalau menurut saya pribadi saya akan sering berkunjung ke perpustakaan. Karena selama ini saya juga kesulitan untuk mencari koneksi listrik di perpustakaan sehingga malas untuk membawa masuk laptop dan kerja tugas di sana.

Jadi mungkin ini bisa diperhatikan untuk ke depannya sehingga memudahkan mahasiswa bekerja juga. Informasi dan diskusi lebih lanjut dapat dilihat di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Global Legal Information Network

From the Web Site:

From the Law Library of Congress, a short video is now available for viewing. Introduction to GLIN, featuring GLIN Director Janice Hyde and Comparative Law Specialist Hanibal Goitom, explains how the Global Legal Information Network works.

The video runs about 8 minutes.

Access The Global Legal Information Network (GLIN)

Source: Law Library of Congress

Minggu, 06 September 2009

Browse Jay Walker's Library (6)


Gadget Lab A brand-new One Laptop per Child XO, far left, sits next to a relatively ancient RadioShack TRS-80 Model 100. In back, a 1911 typewriting machine and a 1909 Kent radio. The large contraption at center is the Nazis' supposedly unbreakable Enigma code machine. The book to its left is a copy of Johannes Trithemius' 1518 Polygraphiae, a cryptographic landmark. On the right is an Apple II motherboard signed by Woz. An Edison kinetoscope sits beside an 1890 Edison phonograph (along with three of the wax cylinders it uses for recording). Nearby is a faithful copy of Edison's lightbulb. The gadget with the tubes is an IBM processor circa 1960. In front of it stands a truly ancient storage device, a Sumerian clay cone used to record surplus grain.

From: Wired Magazine issues 16.10

Browse Jay Walker's Library (5)


Reading Room In the foreground are several early-20th-century volumes with jeweled bindings—gold, rubies, and diamonds—crafted by the legendary firm Sangorski & Sutcliffe. On the table (first row, from left) is a 16th-century book of jousting, a Dickens novel decorated with the author's portrait, and (open, with Post-it flags) an original copy of the 1493 Nuremberg Chronicle, the first illustrated history book. Second row: the 1535 Coverdale Bible (the first completely translated into modern English), a medieval tome with intricate illustrations of dwarfs, a collection of portraits commissioned at a 17th-century German festival ("Facebook in 1610!"), a tree-bark Indonesian guide to cannibalism, and a Middle Eastern mother goddess icon from around 5000 BC.

From: Wired Magazine issues 16.10

Browse Jay Walker's Library (4)


Inspiration Point Walker frequently meets with the Walker Digital brain trust in the seating area of the library, hoping to draw inspiration from the surroundings. Artist Clyde Lynds (known for integrating fiber optics into his work) created the intricate illuminated glass panels and many other visual elements. Walker himself designed the Escher-like tile floor, modeled after a tumbling block pattern from the Victorian age. He bought the chandelier (seen in the Bond film Die Another Day) at an auction and rewired it with 6,000 LEDs. The open book on the table features watercolor illustrations for an 18th-century papal palace that was never built. The globe has special meaning for Walker: "It was a wedding gift Eileen and I received in 1982."

From: Wired Magazine issues 16.10

Browse Jay Walker's Library (3)


Planetarium The massive "book" by the window is a specially commissioned, internally lit 2.5-ton Clyde Lynds sculpture. It's meant to embody the spirit of the library: the mind on the right page, the universe on the left. Pointing out to that universe is a powerful Questar 7 telescope. On the rear of the table (from left) are a globe of the moon signed by nine of the 12 astronauts who walked on it, a rare 19th-century sky atlas with white stars against a black sky, and a fragment from the Sikhote-Alin meteorite that fell in Russia in 1947—it's tiny but weighs 15 pounds. In the foreground is Andrea Cellarius' hand-painted celestial atlas from 1660. "It has the first published maps where Earth was not the center of the solar system," Walker says. "It divides the age of faith from the age of reason."

From: Wired Magazine issues 16.10

Browse Jay Walker's Library (2)


Jay's Anatomy "What's so wonderful about our knowledge of the human body is how remarkably constrained it has been over time," Walker says. In the center of the table sits the Anatomia universa, an early-19th-century medical masterwork by the Italian illustrator Paolo Mascagni. At front right is a field tool kit for Civil War surgeons. Grasping the box of prosthetic eyeballs at left is the original "Thing" hand from the TV show The Addams Family, signed by the cast. In front of the 19th-century phrenological bust is a book, from about 1500, containing the first published illustrations of surgery on humans. "Pre-anesthesia, of course" Walker says. At the rear are a 300 million-year-old trilobite fossil, a raptor skeleton, and a clutch of fossilized dinosaur eggs.

From: Wired Magazine issues 16.10

Browse Jay Walker's Library (1)


The View From Above Looming over the library is an original Sputnik 1 satellite, one of several backups the Soviets built. At far left is a model of NASA's experimental X-29 jet, with forward-swept wings. "It's the first plane that a pilot can't fly—only computers can handle it," Walker says. On the top of the center shelves are "scholar's rocks," natural formations believed by the Chinese to spur contemplation. Behind the rocks is a 15-foot-long model of the Saturn V rocket.

From: Wired Magazine issues 16.10

Sabtu, 05 September 2009

My Service Learning #2 : What Can We Do?

Menurut saya hal-hal yang akan bisa kita kembangkan dengan merubah sistem di sana mungkin seperti ini:
  • Karena jumlah koleksi buku yang ada terbatas, mungkin bisa dipikirkan bagaimana cara menambah koleksi buku yang ada selain dari pemasukan denda atau juga platform dari sekolah. Mungkin salah satunya jika ada siswa yang terlambat mengembalikan buku lebih dari seminggu atau x hari, sanksinya bukan berupa uang denda lagi tapi disuruh beli buku untuk menambah koleksi buku perpus. Hal ini juga mengajarkan mereka untuk bisa lebih bertanggung jawab.
  • Bisa dibuat katalog manual menurut subjek, pengarang, dan juga judul. Ini akan sangat memudahkan mereka dalam pencarian buku atau bisa diusahakan dengan menambah satu komputer lagi. Mungkin komputer bekas, tidak perlu yang terlalu canggih seperti yang digunakan sebagai database, yang penting bisa beroperasi dan digunakan hanya sebagai database catolog (mungkin bisa diusahakan apalagi di sana ada jurusan teknik informatika pula, saya rasa akan ada banyak komputer bekas yang mungkin nganggur)
  • Mungkin kita bisa menuntaskan untuk masalah buku-buku yang belum sempat diberi label karena kurangnya tenaga kerja yang ada di sana
  • Software yang mereka gunakan sekarang masih kurang menjawab kebutuhan mereka. Mungkin kita bisa mengembangkannya dengan program yang open source untuk bisa menjawab kebutuhan mereka. Mungkin kendala utama mereka saat ini adalah masih belum bisa melihat data siswa yang meminjam buku atau juga data pribadi masing-masing siswa yang berhubungan dengan peminjaman. Mungkin kita bisa mengembangkan sedikit databasenya. Masalahnya program yang mereka pakai sekarang tidak ada source codenya karena program yang mereka pakai adalah hasil beli. Mungkin nanti kita bisa membantu mengembangkannya dari awal.

My Service Learning #1 : Condition

Menurut kelompok kami, sistem yang dijalankan oleh perpustakaan SMKN 11 sudah lumayan, tetapi mungkin perlu banyak peningkatan
  • Proses koleksi mereka didapat dari buku-buku teks sumbangan dari pemerintah dan untuk meningkatkan jumlah koleksi buku mereka, mereka mewajibkan siswa yang baru masuk untuk menyumbang masing-masing dua buku
  • Sistem labeling mereka juga sudah benar dengan menggunakan sistem Dewey tetapi mungkin masih ada beberapa buku yang belum dilabel
  • Sistem katalog manual mereka tidak ada dan untuk mencari buku mereka hanya melandaskan akan apa yang telah dimasukkan dalam database komputer. Kelemahan sistem ini pula, siswa tidak bisa mencari sendiri buku-bukunya karena ketersediaan komputer hanya ada satu saja, jadi tugas pustakawan yang bekerja di sana sangat berat karena harus menghandle semua situasi yang ada.
  • Sirkulasi dilayani oleh seorang pustakawan (maksudnya adalah penjaga perpustakaan) dan dicatat dalam database komputer. Jika telat ada dendanya pula.

Google Book Search

Tampaknya saya sudah pernah membahas akan hal ini beberapa hari sebelumnya, tetapi sekarang saya ingin memberitahukan bagaimana perkembangan dari issue ini. Tentu saja issue ini masih terus diperdebatkan oleh banyak pihak. Banyak pihak-pihak yang mendukung karena dinilai pengembangan akan hal ini sangat bagus untuk penyebaran informasi ke depan dan dinilai efektif, tetapi juga ada banyak pihak lain yang menolaknya karena dinilai akan sangat merugikan pihak-pihak tertentu.

Jika pihak oposisi yang lalu datang dari Amazone, Yahoo dan juga Microsoft, maka sekarang oposisi datang dari pihak asosiasi perpustakaan. Pihak-pihak tersebut adalah American Library Association (ALA), the Association of College and Research Libraries (ACRL) and the Association of Research Libraries (ARL). Mereka menganggap bahwa sistem yang ada di perpustakaan saat ini, yaitu ISD (Institutional Subscription Database) sudah dianggap memadai.

Mereka mendesak Google untuk mempertimbangkan lagi masalah privasi masing-masing perpustakaan, harga sewa yang diberikan (yang tentunya juga berkaitan dengan pemasukan perpustakaan tersebut) dan juga masalah hak cipta yang ada.

Tampaknya perjalanan Google untuk bisa membuat database buku ini masih akan sangat panjang. Diskusi lebih lanjut akan disambut dengan tangan terbuka di
http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Library Without Book


The Boston Globe mengadakan perombakan besar-besaran terhadap perpustakaannya. Mereka menyingkirkan semua buku-buku yang ada dalam perpustakaan mereka untuk diganti dengan digital library. James Tracy selaku kepala sekolah mengatakan, "Saat aku melihat buku, aku melihat sesuatu yang sudah ketinggalan zaman, sama seperti gulungan kitab sebelum buku". Mereka kemudian mengganti perpustakaan ini dengan laboratorium berteknologi tinggi sehingga orang yang akan menggunakan perpustakaan ini bisa melalui fasilitas komputer yang ada di sini ataupun dengan menggunakan laptop mereka untuk mengakses database perpustakaan ini.

Sesuatu yang menarik untuk terus dikaji karena hal ini juga banyak memunculkan perdebatan di kalangan pustakawan sekalipun. Diskusi lebih lanjut dapat dilakukan di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Perpustakaan Petra: Rak Buku

Kembali mungkin akan terbentur masalah dana, mungkin jika ingin membuat perpustakaan kita tampil lebih menarik adalah dengan mengganti rak-rak buku yang berbahan besi menjadi rak-rak buku yang terbuat dari kayu yang dipoles, sehingga kesannya lebih alami dan sedap dipandang daripada terbuat dari besi. Memang penggantian ini akan makan banyak biaya, tetapi kalau dari segi keindahan, maka memang rak yang terbuat dari kayu akan lebih menarik perhatian.

Memang banyak hal yang masih perlu dikaji dalam hal ini. Sebagai contoh desain rak yang ada sekarang dibuat saling menyambung dengan menambahkan besi di bagian atas semua rak sehingga hal ini bisa digunakan untuk meminimalisasikan rak akan terjatuh atau terguling bahkan jika ada gempa sekalipun dibandingkan dengan rak-rak yang berdiri sendiri-sendiri.

Hal kedua mungkin juga biaya perawatan kayu lebih besar daripada biaya perawatan besi karena kayu sendiri berasal dari makhluk hidup yang tentunya menurut teori lebih banyak mengandung bahan organik.

Usul saya, mungkin jika ingin dilakukan penggantian seperti ini bisa dilakukan secara bertahap terhadap rak-rak bukunya. Untuk diskusi lebih lanjut mengenai kasus ini, Anda dapat bergabung dalam http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Perpustakaan Petra: Kesenjangan Interior


Yang berikutnya saya ingin membahas mengenai kesenjangan interior yang ada di setiap lantai. Menurut saya, perpustakaan kita hanya mengembangkan interior terutama hanya di lantai pertama saja (lantai 6). Jadi kelihatannya memang di lantai ini rapi sekali dan ada barang-barang interior yang lumayan seperti bisa dilihat pada gambar di atas. Selain itu juga banyak terdapat sofa di sini yang membuat kita semakin nyaman.

Tetapi bagaimana dengan lantai 7 dan 8? Sayangnya tidak ada benda-benda yang menarik seperti ini. Padahal kebanyakan kita malah mencari buku atau mengerjakan tugas di lantai 7 dan 8, tetapi di sini tidak bisa kita temukan sofa atau benda-benda interior yang menarik. Mungkin masalahnya kembali pada dana. Tetapi sekali lagi ini hanyalah pemikiran saya untuk perpustakaan ke depan, bagaimana bisa mengembangkan perpustakaan kita.

Mungkin untuk ke depannya bisa lebih diperhatikan pula untuk pengembangan lantai 7 dan 8 sehingga diharapkan melalui pengembangan ini akan semakin banyak mahasiswa yang mau menjadikan perpustakaan sebagai center aktivitas mereka.

Untuk diskusi lebih lanjut mengenai kasus ini, Anda dapat bergabung dalam http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Perpustakaan Petra: Dirapikan


Ini adalah foto yang saya ambil seminggu lebih yang lalu. Lokasi tempat saya foto ini mungkin tidak akan kelihatan saat kita pertama kali masuk perpustakaan karena letaknya di sebelah kiri arah kita keluar dari lift. Tetapi jika kita akan masuk lift, atau ketika kita akan berjalan menuju ruang baca bebas, maka tentu saja akan tampak hal ini.

Sebenarnya bagi saya pribadi tidak terlalu masalah, tetapi yang memakai perpustakaan kita bukan saja dari kalangan mahasiswa Petra sendiri saja, masih ada orang-orang lain yang datang. Setidaknya menurut saya kita mau memperlihatkan bagaimana kerapian yang ada di Petra. Mungkin ini adalah rak-rak buku yang sudah tidak terpakai lagi, mungkin bisa segera disingkirkan atau sekalian saja dijual sehingga tidak menghabiskan tempat. Atau solusi lainnya bisa dicarikan tempat di gudang untuk menampung benda-benda ini.

Untuk diskusi lebih lanjut mengenai kasus ini, Anda dapat bergabung dalam http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Jumat, 04 September 2009

Perpustakaan Petra: Kotak ASFS


Tak kusangka waktu sudah berlalu secepat ini. Memang facebook dan SMS bisa sangat menyita waktu. Mungkin ini adalah posting terakhir saya sebelum saya berangkat ke kampus. Hal yang ingin saya bahas berikutnya adalah mengenai kotak ASFS ini. Mungkin memang bentuknya masih sangat tradisional tetapi menurut saya ini kurang menarik perhatian.

Mungkin kalau mau, papan pengumuman ini dibuat lebih norak sehingga kesannya perpustakaan di dalamnya juga bisa lebih mantap. Karena biasanya orang cenderung beranggapan akan kesan pertama. Jika kesan pertama di luar sudah wah, maka biasanya orang akan beranggapan yang ada di dalam lebih wah lagi. Demikian pula dengan papan satu ini. Kalau mau terlihat lebih mantap bisa juga dengan menggunakan papan digital (layar digital) yang biasanya ada di mall-mall yang menampilkan film yang akan ditayangkan hari tersebut di Studio 21. Mungkin kita bisa meniru hal tersebut sehingga bukan saja informasi ASFS yang ditampilkan di sana, tetapi juga koleksi film-film dan trailer-trailer yang ada tentang koleksi film yang kita punyai.

Mungkin memang sudah ada tv digital di dalam perpustakaan yang menayangkan tentang kegiatan-kegiatan dan hasil kegiatan yang sudah dilakukan oleh Petra, tetapi akan lebih baik jika movie dikhususkan layar digitalnya sehingga lebih terstruktur nantinya. Memang akan ada biaya tambahan, dan mungkin ide ini bisa dipertimbangkan lagi.

Untuk diskusi lebih lanjut mengenai kasus ini, Anda dapat bergabung dalam http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Perpustakaan Petra: Keamanan Komputer


Apakah di sini saya ingin membahas mengenai lihatlah komputer yang butut ini? Tentu saja tidak, karena menurut saya komputer yang sekarang tersedia di perpustakaan sudah lumayan memadai (tapi tentunya belum semua). Yang ingin saya bahas di sini adalah mengenai keamanan komputer yang ada.

Bagian belakang yang terbuka seperti ini bisa menimbulkan banyak resiko, apalagi kita tidak bisa menjamin bahwa semua anak Petra baik-baik dan tidak iseng (buktinya adalah saya sendiri, jika tidak iseng, saya tidak akan menulis artikel mengenai hal ini). Apa-apa saja yang dapat saya lakukan terhadap bagian belakang yang tidak terproteksi dengan baik ini?
  • Hal pertama yang sudah saya coba tentunya adalah mengambil kabel LAN yang terhubung dengan CPU ini, lalu menyambungkannya dengan laptop saya. Di dekat komputer ini (tempat saya mengambil gambar ini) adalah di bagian agak belakang berdekatan dengan buku-buku referensi di lantai dasar. Dengan sedikitnya pengawasan ditambah dengan tersedianya arus listrik di daerah ini, maka saya dengan santai bisa duduk di sofa dan mengulur kabel LAN hingga bisa saya pakai koneksinya melalui laptop saya.
  • Hal kedua, tentu saja saya bisa menancapkan flashdisk saya (walaupun yang ini belum saya coba). Bagaimana jika flashdisk saya bervirus? Atau bagaimana jika anak informatika yang suka membuat virus datang dan mencoba untuk menyebarkan virusnya melalui jaringan yang ada di perpustakaan? Bisa Anda bayangkan sendiri
Jadi poin saya di sini adalah mungkin ada baiknya untuk menutup bagian belakang dari CPU ini, mungkin bisa dilakukan sistem seperti yang ada di ruang-ruang kelas. Jadi kabel LAN tidak bisa dicabut sembarangan dan tidak perlu ada yang menancapkan media penyimpan data lainnya dalam CPU tersebut. Ini hanyalah tindakan preventif. Tetapi lain halnya jika perpustakaan Petra ingin memberikan kepercayaan kepada mahasiswa-mahasiswanya untuk belajar bertanggung jawab terhadap properti bersama ini.

Diskusi lebih lanjut dapat dilihat pada http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Perpustakaan Petra: Kamar Mandi

Mungkin memang agak tidak penting, tetapi ini juga berhubungan dengan kenyamanan saya pribadi saat saya berkunjung ke Perpustakaan Petra. Salah satu yang membuat saya tidak nyaman adalah kamar mandinya (tentu saja maksud saya di sini kamar mandi pria). Kemarin saya ingin memfotonya, tetapi saya akhirnya mengurungkan niat saya, jadi saya akan membahas masalah ini tanpa adanya foto.

Langsung saja, menurut saya kesan yang ditimbulkan oleh kamar mandi yang ada di perpustakaan terkesan sedikit "angker". Beberapa hal yang mungkin menurut saya membuat suasana "angker" ini mendukung di antaranya adalah
  • Lampu penerangan yang redup
  • Cahaya matahari yang masuk tidak ada sehingga terkesan tertutup sekali
  • Ruangannya terkesan lapang (karena memang mungkin ini salah satu kamar mandi terluas yang ada di kampus Petra)
  • Dan mungkin yang terakhir adalah seringnya timbul bunyi-bunyian yang tidak mendukung dan suara yang kecil bisa agak bergema atau menjadi lebih keras dari suara aslinya
Menurut pendapat saya pribadi, kalau masalah suara-suara memang itu tergantung dari orangnya, tetapi kalau bisa lampunya diganti dengan yang lebih terang, jadi suasananya tidak terkesan remang-remang. Mungkin dengan satu hal ini saja kesan "angker" itu bisa dihilangkan.

Diskusi lebih lanjut tentang bagaimana kita bisa mengembangkan perpustakaan Petra lebih lagi dapat kita bahas dalam forum di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Perpustakaan Petra: Online Journal (2)


Saya ingin membahas kembali mengenai fasilitas online journal yang sudah sempat kita bahas beberapa saat yang lalu. Kalau yang lalu kita membahasnya dalam segi tidak bisa diakses dari luar, maka sekarang saya ingin membahas mengenai ketersediaan journal-journal yang ada di dalamnya.

Kalau saya boleh sedikit berkomentar, maka saya rasa online journal yang kita miliki masih sangat sedikit koleksinya dan juga kebanyakan adalah di bidang ekonomi, sedangkan journal untuk teknik masih sangat sedikit. Saya menyadari kendala yang dihadapi terutama berhubungan dengan biaya. Kita sudah langganan sekian journal saja mungkin ratusan juta yang kita keluarkan. Tetapi yang ingin saya usulkan, mengapa kita tidak mengadakan kerjasama dengan perpustakaan lain untuk bisa share ketersediaan journal ini?

Misalnya (saya lupa nama collegenya), suatu college di Australia, dia bekerjasama dengan Harvard University di Amerika untuk journal-journal terbitan Harvard dan sekitarnya sehingga bisa diakses dari college ini pula. Demikian juga Harvard bisa mengakses journal-journal yang diterbitkan oleh college ini dan mungkin juga journal-journal langganan college ini terbitan Australia.

Mungkin tidak mudah juga untuk bisa menjalin kerjasama ini, karena memang dibutuhkan juga rasa saling percaya, tetapi jika hal ini bisa dilakukan, maka kita akan dapat menghemat banyak biaya dan juga bisa mendapatkan banyak informasi.

Diskusi lebih lanjut akan hal ini dapat dilakukan di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Brainstorming about PCU Library

Yeah, mungkin setelah sekian lama ada banyak ide-ide yang ditumpuk untuk perpustakaan Petra, hari ini saya akan mencoba mengeluarkan ide-ide tersebut. Jadi tema kita untuk posting hari ini adalah "Brainstorming about PCU Library".

Tentu saja ide-ide yang akan diutarakan ini perlu untuk dikaji ulang kembali karena ide-ide ini hanya dikeluarkan tanpa memperhitungkan efek-efek berikutnya yang akan terjadi. Ini hanyalah gambaran mentah dari apa yang mungkin dapat membuat perpustakaan Petra lebih baik dan menarik. Beberapa di antaranya saya gabungkan juga dengan hasil wawancara bersama teman-teman yang lain.

Lebih jelas mengenai kegiatan brainstorming ini dapat dilihat pada http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Kamis, 03 September 2009

Google's Plan for World's Biggest Online Library

Tampaknya kemajuan teknologi semakin nyata adanya dan mulai merambah juga perpustakaan. Goggle sudah merancangkan hal ini dengan menghabiskan dana sebesar 125 juta US Dollars. Google berencana untuk membuat perpustakaan online, jutaan buku dari seluruh dunia akan discan dan dapat dicari melalui search engineenya sehingga informasi yang terdapat dalam sebuah buku akan terbuka untuk umum.

Tetapi tentu saja hal ini mengalami banyak kendala. Pikiran yang bagus tetapi akan sangat tidak disetujui oleh para publisher buku karena tentu saja hal ini akan benar-benar mematikan usaha mereka dan menuntut mereka untuk menjalankan suatu sistem yang benar-benar baru. Salah satu yang menentang dengan keras adalah Amazone. Tentu saja jika Google benar-benar menjalankan niatnya ini, perusahaan yang paling besar kerugiannya mungkin adalah Amazone, karena sudah tidak akan ada lagi buku-buku yang bisa diperjual belikan karena semuanya bisa diakses melalui Google. Amazone menyatakan bahwa apa yang diperbuat oleh Google ini adalah berbahaya dan harus segera dicegah sekarang. Karena memang hal yang akan dilakukan oleh Google ini juga akan bertentangan dengan masalah hak cipta yang ada.

Saat ini memang hal ini masih dalam tahap proses yang sangat panjang. Usaha Google untuk mendapatkan hak scan buku tampaknya masih panjang walaupun ada pihak-pihak publisher dan asosiasi-asosiasi penulis lainnya yang mendukung gerakan Google ini karena dipandang baik untuk bisa share informasi. Kabarnya juga dalam minggu ini, Yahoo dan Microsoft akan menggugat juga apa yang dilakukan oleh Google ini.

Sesuatu yang menarik untuk kita bahas lebih dalam sebenarnya. Apa yang akan terjadi jika Google benar-benar menjalankan niatnya ini. Ini bisa jadi bahan diskusi yang menarik di kelas kita. Diskusi lebih lanjut dapat kita lakukan di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Our Center Is Library

Pernah tau yang namanya Twitter? Ini adalah situs jurnal sosial yang membolehkan kita untuk terus mengupdate status kita sehingga kita bisa menengok ke belakang apa-apa saja yang telah kita lakukan di masa-masa lalu. Mungkin ada banyak yang sejenis, tetapi saya ingin membahas mengenai salah satu fitur yang disediakan oleh Twitter dan pokok bahasan utama kita mengenai perpustakaan.

Di Twitter ada fungsi untuk search tweet (shout box) orang lain yang mengandung kata yang kita cari tersebut, dan sama seperti wall facebook, ketika ada tweet yang baru, maka akan ada pesan untuk merefresh halaman karena tweet yang baru yang berhubungan dengan kata yang kita cari telah ditemukan lagi. Ketika saya mencoba untuk mengetikkan kata 'library' di kotak search, maka akan tampil 20 tweet yang mengandung kata library dan waktu penulisannya maksimal 2 minutes ago. Dan biasanya tidak sampai 5 detik atau tidak sampai 10 detik maksimal, akan ada pertambahan tweet rata-rata 5-8 tweet yang baru diupdate.

Yang ingin saya sampaikan tentunya bukan poin tentang Twitter, tetapi bagaimana perpustakaan bisa menjadi pusat kegiatan kita. Jika dibandingkan dengan Indonesia, maka hal ini tentunya berbeda sangat jauh. Kebanyakan yang menggunakan twitter adalah orang kuliah, bagaimana saya bisa tahu? Karena dari tweet yang diucapkan semuanya menjurus pada subject atau kampus. Mereka banyak menggunakan perpustakaan sebagai pusat aktivitas mereka, entah itu mendengarkan musik, membaca buku-buku mereka, dan sebagainya.

Mengapa hal ini penting menurut saya? Karena jika kita berada di perpustakaan, kita akan dipaksa untuk belajar. Saya menggunakan istilah dipaksa karena di sana kita akan mendapatkan banyak sekali informasi melalui membaca atau media informasi lainnya. Mungkin belajar ini tidak selalu berkaitan dengan subject yang kita pelajari berhubungan dengan penjurusan kita, tetapi juga bisa belajar dalam hal lain. Tidak mungkin di perpustakaan kita akan ribut sendiri atau bermain-main sendiri. Mungkin hal itu bisa juga terjadi, tetapi setidaknya akan berbeda jika kita berada di tempat lain, misal di selasar gedung kuliah dan sebagainya.

Jadi menurut saya, jika kita bisa menjadikan perpustakaan sebagai pusat kegiatan kita, maka kita akan dapat meningkatkan mutu mahasiswa dan juga pembelajaran. Semakin banyak ilmu yang kita peroleh, semakin kritis kita jadinya.

Diskusi lebih lanjut dapat dilakukan di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Rabu, 02 September 2009

Children's Catalogue


Beberapa hari yang lalu, kita sudah sempat berdiskusi mengenai peran dari perpustakaan. Salah satu peran yang ada adalah untuk bisa menyediakan layanan untuk berbagai kalangan dan juga berbagai usia. Yang ingin saya soroti untuk saat ini adalah mengenai perpustakaan Petra dahulu.

Menurut saya, perpustakaan Petra masih belum maksimal dalam melaksanakan perannya terutama dalam pelayanan anak kecil. Beranjak ketika saya browsing dan menemukan situs perpustakaan Flower Mound. Kebetulan ketika saya masuk dari sebuah web perpustakaan, saya menemukan bahwa perpustakaan ini baru saya diupdate sistemnya tanggal 26 Agustus yang lalu. Salah satu yang menjadi sorotan saya adalah pembuatan children's catalogue.

Seperti yang dapat Anda lihat di atas, menurut saya desain yang ada sangat sederhana, tetapi bagi saya justru sederhana ini baik bagi anak kecil, karena mereka tidak perli terlalu susah untuk mengenal layanan-layanan yang disediakan oleh sistem baru ini. Gambar yang interaktif menurut saya akan semakin menarik minat anak kecil untuk menelusuri lebih jauh. Dan satu yang saya suka dalam layanan ini adalah, ketika kita menggunakan search enginee di dalamnya untuk mencari database buku, maka sistem ini secara otomatis akan mengarahkan kita kepada buku-buku yang memang diperuntukkan untuk anak kecil.

Perpustakaan Petra sudah cukup banyak koleksi di bidang buku anak. Mungkin memang pengguna anak-anak di perpustakaan ini masih sangat terbatas jumlahnya, tetapi mungkin kita bisa membuka diri dengan masyarakat luar atau bekerja sama dengan SD-SD yang ada di sekitar wilayah Siwalankerto untuk bisa lebih mengembangkan lagi literatur untuk anak kecil. Kita bisa meniru sistem yang dibuat oleh Flower Mound ini. Jika Anda tertarik mengunjungi situs ini, Anda dapat mengunjunginya di http://librarycatalog.flower-mound.com/polaris/Children/default.aspx. Mungkin Anda akan mendapati sistem yang ada di sini jauh lebih baik dari apa yang dapat saya jelaskan di sini.

Untuk informasi lebih lanjut dapat kita diskusikan bersama di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Perfume in the Library #3


Wawancara berikutnya adalah bersama dengan Yuliadi (26407139). Dia adalah ketua kelas mata pelajaran Rekayasa Perangkat Lunak semester ganjil 2009-2010. Seseorang dengan kepemimpinan yang mantap. Wawancara ini dilakukan tepat sebelum dimulainya mata pelajaran Interaksi Manusia Komputer.

Ketika ditanya apakah suka dengan parfum, dia menjawab kesannya terhadap parfum biasa saja, tidak ada hal yang menarik dengan atau tanpa menggunakan parfum. Dia juga tidak biasa dengan aroma, jika perpustakaan menggunakan aroma menurutnya boleh saja, asalkan jangan terlalu menyengat.

Tetapi anehnya, walaupun dia berkata bahwa biasa dengan parfum, tetapi parfum mempunyai efek bagi dirinya. Jika menggunakan parfum, dia bisa merasakan tenang dan rileks. Jika buku-bukunya beraroma menurutnya boleh saja, asal jangan aroma kertas koran saja.

Diskusi lebih lanjut bersama Yuliadi dapat kita teruskan di http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Perfume in the Library #2


Kesempatan berikutnya jatuh di tangan Leonard Chandra Tali (26406004). Dia merupakan fungsionaris HIMAINFRA periode 2008-2009 (jadi boleh dibilang sudah mantan dia). Wawancara ini dilakukan di markas besar panitia pelaksana P3KMABA 2009 saat dia sedang mengerjakan tugasnya sebagai "tukang ngeprint" sertifikat kelulusan P3KMABA.

Ketika ditanya apa pendapatmu mengenai parfum, dengan logat Kupangnya dia langsung berkata "biasa ae". Terdengar lucu sekali bagi yang tidak biasa mendengarkannya. Dia lebih senang dengan buku biasa saja, tidak suka dengan adanya bau-bauan. Demikian pula ketika ditanya apa efek parfum bagi dirinya, dia pun berkata bahwa tidak ada efek parfum pada dirinya, dia lebih suka untuk tampil percaya diri apa adanya, termasuk saat BB (bau badan) keluar.

Jika ditanya apakah berhubungan antara perpustakaan dan wewangian yang ada, maka dia hanya berkata, jika baca buku dengan wewangian yang biasa ya dia senang-senang saja, tetapi jika terlalu menyengat itu akan membuatnya malas membaca buku.

Mungkin wawancara ini terlalu singkat karena saat itu memang dia sedang sibuk bekerja, hingga mau foto pun dia harus dipaksa untuk menghadap kamera sehingga tampaklah pose seperti foto di atas. Tetapi jangan kuatir, anak yang biasa disebut Leang ini merupakan anggota dari HIMA GOSPEL, Anda dapat bertemu dengannya di http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Perfume in the Library #1


Kesempatan pertama jatuh di tangan HB William Suryaja (26407089). Dia adalah salah seorang fungsionaris HIMAINFRA periode 2009-2010 dan lumayan sering ke toko buku (saya hanya berkata lumayan sering, tetapi saya tidak berkata dia beli buku atau suka baca buku).

Langsung saja, ketika ditanya apa pendapatmu tentang buku yang wangi, dia langsung berkata bahwa dia suka buku yang wangi. Dia lebih merasa enjoy jika membaca buku yang beraroma terapi, tetapi tentu saja aromanya jangan terlalu menyengat. Segala sesuatu yang berlebihan tentu saja tidak enak.

Baginya efek parfum bisa meningkatkan percaya dirinya, menurutnya jika dia menggunakan parfum, entah bagaimana tetapi dia merasakan nyaman saja. Di kala hari panas dan terik, jika memakai parfum atau mencium bau yang harum akan terasa dingin. Menurutnya memakai parfum paling cocok jika sedang antri panjang, wewangian bisa membuat terasa sejuk.

Kemudian pendapatnya mengenai perpustakaan Petra adalah perpustakaan kita memang kurang wangi, jadi sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Christyanto yang lalu. Dia berpendapat perpustakaan mungkin diberi sesuatu (dia juga kurang mengerti) sehingga kesannya dingin-dingin. Intinya, bagi HB, parfum atau wewangian punya pengaruh yang besar dalam hidupnya.

Lebih jauh mengenai hal ini dapat kita diskusikan dalam http://www.hima-gospel.forumotion.net. HB adalah salah satu member dari HIMA GOSPEL.

Perfume Psychology and Library

Masih ingat akan apa yang dikatakan Christianto dalam wawancara yang diterbitkan di blog ini kemarin? Saya cukup tertarik dengan apa yang menjadi kekurangan perpustakaan menurutnya. Menurutnya perpustakaan kita kurang wangi. Ini yang membuat saya akhirnya berusaha mencari-cari apa efek psikologis parfum bagi kita dan juga saya sempat bertanya-tanya kepada beberapa rekan, apa pendapat mereka tentang parfum dan bagaimana kaitannya dengan minat baca mereka.

Yeah, hari ini saya berika tema besar "Gospel's Perfume Day". Walaupun hari ini kita mungkin tidak akan membahas selurhnya tentang parfum, tetapi inilah sebagian besar yang akan kita bicarakan. Ada 3 bintang tamu kita yang akan hadir melalui wawancara nantinya.

Tetapi sebelumnya saya ingin menyampaikan apa yang saya dapatkan mengenai parfum dan juga efeknya terhadap psikologis kita. Parfum tentu saja memiliki efek psikologis terhadap orang-orang tertentu. Memang ada orang-orang yang tidak terlalu menyukai bau parfum bahkan ada beberapa orang yang alergi, karena parfum ini merupakan senyawa kimia pula. Tetapi studi yang dilakukan oleh beberapa perusahaan parfum menyatakan bahwa psikologi parfum tidak bisa disangkutkan secara global. Parfum tertentu hanya mempengaruhi orang-orang tertentu atau ras tertentu saja. Efek yang diberikan oleh suatu parfum berbeda-beda dan dipengaruhi pula oleh corak budaya dan sosial masyarakat sekitarnya. Untuk itulah sebelum meluncurkan produknya, sudah pasti suatu perusahaan parfum akan mensurvey dulu lokasi daerah yang akan menjadi pasarnya sehingga bisa tahu parfum apa yang cocok untuk dipasarkan di daerah tersebut.

Berkaitan dengan perpustakaan, sejauh ini saya belum berhasil mendapatkan artikel ataupun jurnal yang membahas masalah ini. Mungkin bisa juga dilakukan penelitian dalam hal ini apakah parfum berpengaruh terhadap minat baca seseorang. Karena terbatasnya waktu pula, maka penulis hanya melakukan riset kecil-kecilan untuk mengetahui bagaimana pendapat beberapa orang mengenai parfum dan juga hubungannya dengan minat baca mereka.

Untuk lebih jelasnya mengenai hal ini mungkin dapat kita bahas dalam http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Selasa, 01 September 2009

HIMA GOSPEL in Action #2


Yeah ini dia, di hari terakhir pameran Cellular and Computer, kami berempat yang merupakan member dari HIMA GOSPEL akhirnya mengunjungi pameran ini pula melalui suatu pergumulan yang berat juga tentunya. Ini semua kami lakukan demi teman kami yang lagi "ngidam" sesuatu.

Sedikit cerita mengenai pameran ini, mungkin bagi saya sedikit mengecewakan, karena mungkin juga karena saya sudah terlalu sering pergi ke pameran-pameran yang serupa sehingga saya menganggap pameran ini terlalu biasa. Tidak ada sesuatu yang spesial bagi saya. Tetapi tentu saja kami tidak rugi pergi ke sini, karena ternyata di sini kami bertemu dengan banyak teman-teman lama kami yang sudah lama tidak kami jumpai. Ajang reuni kecil-kecilan.

Tetap semangat gan... Walaupun forum kita sudah mencapai batas bandwidth, tetapi bulan yang baru ada semangat yang baru untuk pengakraban diri lagi. Segara kunjungi web kami di http://www.hima-gospel.forumotion.net. Sampai jumpa di sana

Medicine and Nursing Online Libraries


Kali ini saya ingin membagikan mengenai directory tentang online libraries yang berhubungan dengan medicine dan juga nursing. Seperti yang teman-teman bisa lihat di atas, situs ini http://nursingschools.net/ merupakan direktori yang menyediakan bukan saja online libraries, tetapi juga terdapat banyak artikel yang berhubungan dengan keperawatan. Memang ini merupakan direktori yang terdapat di America, tetapi setidaknya berisi hal-hal yang dapat kita pelajari jika kita tertarik dengan kedokteran maupun keperawatan (karena memang saya juga ada ketertarikan di bidang Biologi khusunya).

Informasi lebih lanjut bisa dilihat pada http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

The Early Republic: Critical Editions on the Founding of the United States


Satu lagi hasil dari saya membaca artikel hari ini, saya membaca artikel yang ditulis oleh E-VIEWS, dalam artikelnya kali ini, dia membagikan username dan password untuk mengakses online file yang diterbitkan oleh John Hopkins University Press yang berjudul The Early Republic: Critical Editions on the Founding of the United States. Situs ini dilengkapi 17000 annonated pages dan juga 250 gambar yang merupakan hasil dokumentasi dari First Federal Congress (1789-1791).

Sekarang mereka memberikan akses kepada pembaca 'E-VIEWS' hingga 30 September 2009. Caranya mudah saja, ketikkan http://earlyrepublic.press.jhu.edu/cgi-bin/access.cgi lalu gunakan:
username: jhupbooks
password: gratis

Ada banyak hal menarik yang bisa Anda temukan di sini. Dan juga saya harap Anda bisa menggunakan username dan password tersebut dengan bertanggung jawab mengingat banyak juga pengguna yang lain.

Informasi lebih lanjut bisa dilihat pada http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

ProQuest's Black Studies Center

Nah, setelah saya searching-searching sekian lama, akhirnya saya dapatkan artikel yang bagus ini. Masih ingat akan ProQuest? Ini adalah (entah organisasi atau sistem) yang menyediakan layanan online journal atau media informasi lainnya dari berbagai publikasi yang ada. Tentu saja layanan ini di hari-hari biasa tidak gratis, tetapi beruntung juga saya hari ini bisa mendapatkan artikel yang ditulis oleh E-VIEWS.

Pada tanggal 30 Agustus sampai 5 September yang merupakan minggu yang diperingati sebagai National Historically Black Colleges and University, ProQuest mengijinkan kita untuk mengakses media-media informasi yang ada di dalamnya. Kunjungi saja situs berikut ini

http://bsc.chadwyck.com/?instit1=hbcutrial2&instit2=hbcutrial2

Jangan sia-siakan kesempatan ini, ada banyak hal menarik yang ada di dalamnya. Black Studies Center berisi media informasi dari 150 publikasi dengan 30 volume materi kontekstual, 2000+ gambar, 200+ video klip, 3 index menuju Black works dan juga optional module (termasuk The History Makers yang merupakan kumpulan dari 100 interview terhadap contemporary African Americans yang berhasil di bidangnya dan meningkatkan martabat orang berkulit hitam)

Informasi lebih lanjut bisa dilihat pada http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Informatika 2009 #6 : Kurang Wangi

Kesempatan berikutnya saya mewawancarai Christianto Tjandra (26409025). Topik yang dibawakan masih tetap sama, yaitu bagaimana pandangan mahasiswa terhadap perpustakaan kita ini.

Christianto memberikan nilai 8 terhadap perpustakaan kita dengan alasan buku-buku yang tersedia lumayan lengkap, suasananya tidak membosankan, dan keadaannya juga nyaman. Tetapi yang disayangkan di sini adalah Christianto selama ini hanya pernah sekali saja mengunjungi perpustakaan kita.

Di sini dapat kita lihat bahwa Christianto berkata bahwa perpustakaan kita nyaman, tetapi mengapa hanya sekali saja dia pernah datang? Hal ini memaksa kita untuk bisa berpikir lebih lagi ada apa yang salah dengan perpustakaan. Mungkin saja perpustakaan kita nyaman tetapi apakah nyaman juga berarti menarik? Ataukah mungkin kesadaran kita akan pentingnya membaca masih sangat rendah? Mungkin ini bisa jadi suatu topik penelitian yang bagus untuk digarap lebih lagi.

Christianto memberikan beberapa saran untuk pengembangan perpustakaan kita ke depannya. Yang pertama adalah perpustakaan kita kurang wangi. Entah itu buku-bukunya ataupun juga ruangannya (mungkin bisa diteliti lebih dalam efek psikologis dari parfum terhadap minat membaca mahasiswa), dan saran yang kedua adalah buku-bukunya perlu ditambah lagi.

Christianto merupakan salah satu member dari HIMA GOSPEL, mari kita akrabkan diri kita dalam forum http://www.hima-gospel.forumotion.net. Sampai jumpa di sana.

Senin, 31 Agustus 2009

HIMA GOSPEL in Action #1


Setelah makan siang bersama di kantin W Universitas Kristen Petra, beberapa member HIMA GOSPEL kembali mengadakan gathering di Kolam Jodoh (Atrium W) walaupun beberapa di antara kita sudah tidak single lagi... wkwkwkwkwkwkwkwk

Apa poin yang ingin saya sampaikan di sini? Lihatlah hati-hati yang gembira di atas walaupun beberapa menampakkan wajah yang suram. Kita tetap senang walaupun sebentar lagi harus menghadapi kuliah masing-masing... wkwkwkwkwkwk

Tetap semangat gan... Walaupun forum kita sudah mencapai batas bandwidth, tetapi bulan yang baru ada semangat yang baru untuk pengakraban diri lagi. Segara kunjungi web kami di http://www.hima-gospel.forumotion.net. Sampai jumpa di sana

Informatika 2009 #5 : Perpustakaan Petra Besar Bo...


Sosok yang sedang belajar di atas bernama Valentino Handoko (26409011). Saya sangat berterima kasih karena disela-sela kesibukannya belajar, dia masih mau meluangkan waktunya untuk wawancara singkat mengenai perpustakaan Petra. Sungguh seorang anggota HIMA GOSPEL yang baik! (sayangnya pengabadian foto kita berdua kurang mantap ini kualitasnya)

Dia memberikan nilai 7 terhadap perpustakaan Universitas Kristen Petra. Penilaiannya ini berdasarkan ruangan yang dipakai perpustakaan sangat besar (hingga 4 lantai), bukunya lengkap, fasilitasnya banyak yang meliputi bisa scan, fotocopy, dsb, dan masuknya juga sudah keren dengan menggunakan kartu saat masuk. Tetapi masih sangat disayangkan, selama ini dia masih belum pernah kembali ke perpustakaan lagi selain sewaktu perkenalan perpustakaan. Dan fasilitas yang pernah dia gunakan di anatara 3 fasilitas yang ada hanyalah fasilitas pencarian buku.

Saran Valentino untuk perkembangan perpustakaan ke depannya adalah tingkatnya diperbanyak lagi sehingga dapat mencakup koleksi buku yang lebih banyak. Kemudian perpustakaannya diberi escalator sehingga kita tidak perlu terlalu capai dalam naik turun tangga.

Valentino merupakan salah satu member dari HIMA GOSPEL, mari kita akrabkan diri kita dalam forum http://www.hima-gospel.forumotion.net. Sampai jumpa di sana.

Famous Library #1 : Bibliotheca Alexandrina (2)


Dimensi pengerjaan proyek ini sangat luas. Dalam proyek ini bukan saja terdapat perpustakaan yang mampu menampung hingga delapan juta buku, tetapi juga terdapat ruang baca yang luasnya 70000 m² di 11 lantai yang ada. Kompleks ini juga mempunyai sebuah ruangan konferensi, ada pula perpustakaan khusus untuk para tunanetra, anak muda, dan anak-anak. Terdapat pula tiga museum, 4 galeri seni, sebuah planetarium, dan sebuah laboratorium restorasi manuskrip kuno.

Ruang baca utamanya berdiri sepanjang dari 32 meter yang menghadap ke laut dan diameternya adalah 160 meter. Dindingnya bewarna abu-abu seperti batu granit yang banyak terdapat di Aswan, yang dilukisi dengan berbagai karakter dari 120 skrips peradaban manusia di dunia.

Koleksi yang ada di perpustakaan ini merupakan hasil sumbangan dari seluruh dunia. Spanyol menyumbangkan dokumennya tentang detil masa pemerintahan Moors. Perancis juga memberikan sumbangan berupa dokumen yang mencatat pembangunan Terusan Suez. Di perpustakaan ini juga tempat mengcopy data-data yang ada di internet sebagai backup.

Mengenai manajemennya, direktur Bibliotheca Alexandrina sekarang dipegang oleh Ismail Serageldin. Dia juga merupakan pimpinan direktur dari setiap BA's affiliated research institutes and museums dan juga merupakan seorang professor di Wageningen University di Belanda.

Mimpi untuk mengembalikan Alexandria kepada fungsi awalnya sebagai pusat sains tidak lepas dari kritikan banyak pihak. Para ahli mempertanyakan apakah Mesir yang sekarang mampu untuk mensuplai perpustakaan dengan materi-materi yang dibutuhkannya, atau apakah pemerintahannya mampu melakukan penyensoran terhadap benda-benda yang terdapat di dalamnya. Hal lain lagi, mengenai arsitektur perpustakaan ini (yang bentuknya diambil dari matahari terbit) dikritik terlalu makan banyak biaya daripada koleksi-koleksi yang ada di dalamnya. Karena terbatasnya dana yang ada, maka pada tahun 2002, perpustakaan ini hanya memiliki 500000 koleksi buku, lebih rendah daripada perpustakaan nasional lainnya. Diperkirakan butuh waktu 80 tahun lamanya untuk mengisi koleksi perpustakaan sampai batas yang bisa ditampung oleh bangunan ini. Perpustakaan ini sangat bergantung dari donasi dari yang lain untuk mengisi koleksinya. Komplain lainnya juga berdatangan, misalnya daripada dana tersalurkan untuk perpustakaan ini, dana bisa dialihkan untuk social project lainnya. Seperti Mesir punya masalah pendidikan. Menurut survey, hanya 59% wanita dan 83% pria yang dapat membaca di negaranya.

Jika Anda mempunyai informasi tambahan mengenai perpustakaan ini, atau mungkin Anda sudah pernah mengunjunginya, Anda dapat membaginya bersama kami di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Library Roles #4 : As A Service-Oriented Information Provider

Ini adalah peran terakhir yang juga seharusnya dimiliki oleh perpustakaan, yaitu sebagai penyedia informasi. Poin-poin yang mendetilkan penjabaran tersebut adalah:
  • Perpustakaan menyediakan informasi tepat pada waktunya, akurat, dan berguna untuk suatu komunitas yang berhubungan dengan pekerjaan dan juga hobby pribadi
  • Perpustakaan mempromosikan pada sebuah situs, secara online dan layanan telepon atau layanan informasi untuk membantu pengguna yang membutuhkan
  • Perpustakaan berpartisipasi dalam program peminjaman antar perpustakaan dan cooperative reference service sehingga pengguna yang membutuhkan informasi yang tidak ada di perpustakaannya dapat terpuaskan
Menurut saya, perpustakaan Petra juga sudah menerapkan ketiga poin di atas. Pada poin pertama, hal ini sudah disediakan oleh perpustakaan kita yang sudah berlangganan berbagai surat kabar, majalah, dan juga online journal.

Poin kedua, perpustakaan kita mempunyai web untuk membantu pengguna mendapatkan informasi media yang dibutuhkannya. Selain itu, web ini juga berfungsi sebagai media informasi yang ada. Selain itu perpustakaan kita juga menyediakan berbagai web lainnya yang juga mendukung promoso kegiatan ini seperti Surabaya Memory, Desa Informasi, dan berbagai web penunjang lainnya. Mengenai nomor telepon perpustakaan kita, kita bisa menelepon Petra lalu kita bisa minta disambungka ke perpustakaan.

Untuk poin yang ketiga, tentu saja perpustakaan kita juga sudah menjalin kerja sama hingga taraf internasional untuk mencarikan para penggunanya buku yang mereka butuhkan. Perpustakaan Petra juga bersedia untuk memberikan surat rekomendasi kepada perpustakaan lainnya agar kita dapat mengakses informasi yang mereka punyai di sana.

Saya rasa dalam poin ini perpustakaan kita sudah cukup baik melaksanakannya. Diskusi lebih lanjut dapat dilakukan di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Library Roles #3 : As A Mean of Access to Life-Long Learning

Ini merupakan peran ketiga yang didefinisikan oleh Department of Public Instruction of Wisconsin dan American Library Association yang poin-poinnya meliputi:
  • Perpustakaan meyakinkan anak-anak untuk mengembangkan keinginan dalam membaca dan belajar melalui pelayanan terhadap anak dan untuk orang tua dan anak secara bersama-sama
  • Orang tua dan pemerhati yang lain dapat membaca tentang kesiapan, hal-hal yang berhubungan dengan orang tua, memperhatikan anak, dan pengembangan anak
  • Perpustakaan mempromosikan membaca sejak masa kecil, menyediakan pelayanan untuk proses memperkaya diri sendiri (self-enrichment) dan untuk menemukan kenikmatan dalam membaca dan belajar
  • Pelayanan yang diberikan meliputi kepada anak-anak kecil, orang tua, dan manula -- sebagai contoh, program "read-aloud", day care story hour, lomba storytelling, workshop pengembangan skill orang tua, dan pembicaraan mengenai suatu buku
  • Perpustakaan diharapkan menyediakan fasilitas sosial, atau program-program kejar paket. Program yang memperkenalkan anak-anak dan orang tua terhadap anak-anak lainnya dalam area yang lebih luas
Jika saya meninjau ulang foto-foto program yang pernah dilaksanakan oleh perpustakaan Petra, maka secara garis besar seharusnya fungsi-fungsi ini sudah terlaksanakan, walaupun mungkin tidak sering pelaksanaannya dan kurang diketahui oleh mahasiswa Petra secara luas. Pelayanan terhadap anak-anak kecil mungkin sudah, bagaimana Petra bisa mengembangkan anak-anak yang ada di sekitar Siwalankerto, hingga di perpustakaan Petra pun menyediakan suatu ruang baca sendiri yang buku-bukunya dikhususkan merupakan buku bacaan anak-anak. Tetapi yang perlu disoroti di sini adalah untuk orang tua dan manula.

Memang tidak mudah untuk memberikan pelayanan terhadap orang tua dan manula. Kesulitannya adalah dalam hal mengumpulkan mereka. Selain orang tua biasanya adalah pekerja sehingga tidak mudah untuk mengumpulkan mereka di jam-jam biasa (yang artinya butuh jam-jam khusus sebagai tambahan kerja), juga masalah dana yang ada karena dana yang ada biasanya dialokasikan sebagai media promosi perpustakaan Petra. Sedangkan kesulitan untuk program manula adalah mengumpulkan materi-materi dan menyusun acara yang sangat menarik bagi mereka adalah tantangan tersendiri bagi kita.

Diskusi lebih lanjut dapat dilakukan di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Minggu, 30 Agustus 2009

Informatika 2009 #4 : Koq Ga Boleh Bawa Buku?


Satu lagi anggota HIMA GOSPEL yang turut berpartisipasi dalam wawancara (malah mengajukan diri, inilah contoh orang yang proaktif). Ia bernama Ferdi Atmajaya Wongsusilo (26409082).

Mungkin sekian saja perkenalannya. Wawancara dibuka langsung dengan pertanyaan dari 1 hingga 10 kamu memberikan nilai berapa pada Perpustakaan Universitas Kristen Petra. Ferdi dengan cepat menjawab 8. Tampaknya dia sudah siap utuk menjawab pertanyaan ini. Penilaiannya yang sangat tinggi terhadap perpustakaan ini dikarenakan di perpustakaan kita terdapat banyak buku yang berguna, suasananya yang dingin, dan tempatnya enak buat santai.

Pengalaman Ferdi bersama perpustakaan cukup banyak juga. Dia menggunakan perpustakaan untuk mengisi waktu luangnya dengan baca buku, terutama juga buku-buku yang berhubungan dengan digital imaging. Tetapi masih sangat disayangkan, Ferdi tidak pernah menggunakan fasilitas teknologi yang ada. Jadi dia mencari buku biasanya secara manual.

Saran Ferdi untuk pengembangan perpustakaan kita ke depannya adalah bentuk atau interior perpustakaan dibuat untuk lebih menarik. Dia menganalisa sepertinya perpustakaan kita ini sepi pengunjung karena salah satunya mungkin desainnya yang kurang menarik. Kemudian dia juga mengomentari masalah masuk perpustakaan tidak boleh bawa buku. Padahal lebih asyik baca buku di perpustakaan karena suasananya lebih mendukung ketimbang di ruang baca bebas.

Dan pesan terakhir dari sponsor, Ferdi merupakan salah satu member dari HIMA GOSPEL, mari kita akrabkan diri kita dalam forum http://www.hima-gospel.forumotion.net. Sampai jumpa di sana.

Famous Library #1 : Bibliotheca Alexandrina (1)

Bibliotheca Alexandrina merupakan nama latin dari Perpustakaan Alexandria merupakan perpustakaan penting dan juga pusat kebudayaan yang terletak di pantai Laut Mediterania di kota Alexandria. Perpustakaan ini didirikan sebagai peringatan akan Perpustakaan Alexandria yang pernah hancur dan mengembalikan fungsi yang pernah dilakukan oleh perpustakaan ini, yaitu sebagai pusat pendidikan.

Ide untuk menghidupkan kembali perpustakaan ini bermula pada tahun 1974, ketika sebuah komite dibentuk oleh University of Alexandria yang tugasnya menentukan lokasi di mana akan dibangun perpustakaan baru ini antara kampus dan lepas pantai Laut Mediterania yang juga tentunya berdekatan dengan lokasi awal perpustakaan aslinya pernah berdiri. Tetapi dalam proses perjalanan komite ini, ide untuk membangun perpustakaan ini dengan cepat mendapat dukungan dari pihak yang lain pula. Salah satu pendukung proyek ini adalah presiden Mesir yang saat ini masih menjabat, Hosni Mubarak. UNESCO dengan cepat juga menyatakan dukungannya terhadap proyek ini karena juga di daerah ini sangat strategis untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Mediteranian. UNESCO kemudian mengadakan kompetisi desain arsitektur pada tahun 1988 yang nantinya akan digunakan untuk membangun perpustakaan yang baru ini. Pemenang dari kompetisi ini adalah Snohetta yang mampu memadukan unsur desain dan warisan kebudayaan yang ada. Snohetta yang merupakan penduduk Norwegia ini mengalahkan 1400 desain yang ada. Pada suatu konferensi yang diadakan pada tahun 1990 di Aswan, dana awal yang diturunkan untuk pembangunan ulang perpustakaan ini adalah sebesar $65 juta, yang sebagian besar dananya berasal dari Arab. Pengerjaan konstruksi bangunan dimulai pada tahun 1995 dan setelah menghabiskan $220 juta, bangunan ini diresmikan berdiri pada 16 Oktober 2002.

Mungkin seperti ini sejarah singkat bagaimana perpustakaan lama yang telah terhilang ini bisa dihidupkan kembali. Dan mengenai bagaimana struktur dan koleksi apa saja yang ada dalam perpustakaan ini, diharapkan Anda sabar menunggu hingga hari esok. Atau jika Anda tertarik lebih dalam belajar mengenai perpustakaan ini, Anda dapat mencari bahan-bahan referensi dari internet dan juga dengan mengunjungi http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Library Roles #2 : As A Popular Materials Center

Peran perpustakaan yang kedua adalah sebagai pusat pengadaan materi. Yang dimaksud di sini sebagai materi adalah barang-barang media yang sekarang sedang populer, misalnya berupa buku, CD, DVD, ataupun media-media lainnya yang dapat mendukung proses informasi.

Secara mendetil, poin ini dapat dijabarkan menjadi
  • Perpustakaan menyediakan media informasi dalam berbagai format yang pernah digunakan ataupun sedang populer saat ini (banyak permintaan) untuk segala umur
  • Perpustakaan mempromosikan dan meyakinkan masyarakat akan koleksinya

Menurut pendapat saya, perpustakaan Petra saat ini sudah memenuhi kedua hal tersebut. Di perpustakaan kita (di lantai 5) terdapat ruangan tempat menyimpan media informasi. Di sana banyak terdapat media-media penyimpanan data mulai dari video casette hingga saat ini yang sedang populer adalah DVD. Tidak ada kendala dalam hal ini. Tetapi jika saya boleh usul, mungkin koleksi yang ada bisa semakin diperlengkapi. Jika memungkinkan, film-film yang ditayangkan di bioskop-bioskop bisa juga dengan segera dimiliki Petra. Mungkin ini nantinya dapat menunjang peningkatan jumlah pengunjung perpustakaan.

Diskusi lebih lanjut dapat dilakukan di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Library Roles #1 : As A Community Information System

Peran perpustakaan secara bertahap telah mengalami perubahan, salah satunya karena dampak perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat. Salah satu peran perpustakaan yang berhasil didefinisikan oleh Department of Public Institution of Wisconsin dan American Library Association menghasilkan misi-misi sebagai berikut.

Peran perpustakaan yang pertama adalah sebagai sumber informasi komunitas
  • Perpustakaan sebagai jalur informal untuk informasi dan asisten terhadap informasi terkini pada sebuah komunitas organisasi, pelayanan, dan sebagainya
  • Perpustakaan menyimpan data-data profil sebuah komunitas pelayanan (organisasi) sebagai sumber informasi
  • Perpustakaan berpatisipasi dalam jaringan antar komunitas, dan mempunyai kalender kegiatan komunitas tersebut
Perpustakaan sebagai penyedia informasi terkini mungkin sudah dilakukan oleh perpustakaan kita sekarang, tetapi mungkin masih belum sepenuhnya. Misalnya pula jika rektorat butuh suatu data X, maka biasanya pihak rektorat tanpa melalui perpustakaan, langsung mencari datanya sendiri, mungkin jika melalui perpustakaan dinilai jalurnya akan semakin bertambah panjang, sedangkan mungkin informasi ini diperlukan cepat.

Peran perpustakaan menyimpan profil-profil organisasi, mungkin perpustakaan Petra sudah menyimpan profil mengenai sejarah Petra. Tetapi mungkin untuk organisasi lainnya masih belum. Tetapi juga, perpustakaan Petra sudah dapat mencari sumber informasi bukan saja dari apa yang dimiliki oleh perpustakaan kita, tetapi juga dari perpustakaan lain. Karena saat ini perpustakaan kita menjalin kerja sama bahkan dengan perpustakaan yang ada di luar negeri.

Mengenai perpustakaan yang mengetahui agenda Petra, saya rasa perpustakaan Petra masih belum tahu menyeluruh kegiatan apa saja yang dilakukan di Petra. Mengingat juga jalur koordinasi yang tidak melibatkan perpustakaan dalam hal kepanitiaan di Petra. Mungkin perpustakaan hanya tahu sebagian besar program-program penting universitas dan tentu saja program-program perpustakaan sendiri.

Diskusi lebih lanjut dapat dilakukan di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Sabtu, 29 Agustus 2009

Special Event #2 : Gathering HIMA




Hari Jumat kemaren, kita dari berbagai fungsionaris HIMA mengadakan pertemuan untuk pengakraban semua fungsionaris HIMA yang ada di Universitas Kristen Petra. Acaranya lumayan seru apalagi ditambah dengan anak-anak yang pada narsis semua ingin foto-foto. Bayangkan saja, di saat sesi berlangsung, masih sempat-sempatnya saja berfoto ria.

Menurut saya acara ini bagus, hanya saja mungkin perlu banyak peningkatan di sana sini. Tetapi mengingat ini adalah untuk pertama kalinya diadakan acara ini, maka ini adalah pencapaian yang luar biasa menurut saya. Terus maju Petra! Terus maju Informatika!

Mari kita akrabkan diri kita dalam forum http://www.hima-gospel.forumotion.net. Sampai jumpa di sana.

Informatika 2009 #3 : Ingin Live Music

Masih dengan Mahasiswa Baru Informatika 2009 Universitas Kristen Petra, kali ini kesempatan untuk wawancara jatuh di tangan Jessica Florencia (26409083). Saya juga bertemu dengannya di Atrium W sesaat sebelum dia akan pulang menemani temannya pergi ke Hi-Tech Mall.

Secara overall, Jessica memberikan nilai 6 terhadap perpustakaan. Apa yang menyebabkan dia memberikan penilaian seperti ini? Ketika saya tanya, dia hanya menjawab "perpustakaan membosankan". Singkat, padat, dan kurang jelas tentunya sehingga saya kembali memancing dengan pertanyaan bukankah nilai 6 yang diberikan ini sudah tergolong lebih dari rata-rata nilai yaitu 5?

Ternyata baginya perpustakaan walaupun membosankan tetapi punya fungsi tersendiri baginya. Dia masih dua kali ke perpustakaan tetapi di sana dia menggunakan perpustakaan sebagai tempat untuk curhat, menemani temannya dan juga baca buku anak.

Bagaimana caranya untuk menghindarkan kebosanan? Dia memberikan ide agar perpustakaan diberi lebih banyak hiburan dan juga mungkin bisa diadakan live music di sana. Mungkin nanti bisa dipadukan dengan UKM paduan suara atau juga band. Ide gila yang bagus menurut saya, tetapi mungkin perlu dikaji ulang. Mungkin yang bisa diterapkan hal ini adalah ruang baca bebas karena menurut saya ruang baca bebas ini memang kurang fasilitas dan kurang dirawat. Mungkin untuk ke depannya bisa lebih dikembangkan.

Jessica merupakan salah satu member dari HIMA GOSPEL, mari kita akrabkan diri kita dalam forum http://www.hima-gospel.forumotion.net. Sampai jumpa di sana.