Sudah lama saya tidak lagi mengurus blog ini karena dalam minggu belakangan ini ada banyak sekali tugas yang harus dikerjakan dan juga karena keterbatasan internet di kampung halaman saya di Situbondo.
Kali ini sebelum saya membahas mengenai service learning saya, saya sedikit memberikan komentar untuk situs Lentera ini. Saya ingin membuka halaman Lentera dari kampung halaman saya, saya perlu menunggu waktu lebih kurang 10 menit. Tetapi ketika saya membuka situs lainnya termasuk blog ini, membuka halaman ini sangat cepat dibandingkan dengan membuka Lentera. Saya tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya, tetapi mungkin hal tersebut juga mempengaruhi peringkat Lentera di Google Rank. Mungkin jika kinerja servernya dipercepat, mungkin saja nanti akan lebih menunjang perankingan situs ini di Google akan semakin melejit. Karena terakhir saya buka sebelum liburan di Google dengan keyword Lentera, situs Lentera Petra ini masih menempati urutan 200 lebih, sekitar 270an.
Informasi lebih lanjut dapat Anda raih dengan mengunjungi http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.
Tampilkan postingan dengan label Toro's Opinion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Toro's Opinion. Tampilkan semua postingan
Selasa, 22 September 2009
Kamis, 10 September 2009
Using Outside Blog
Untuk tugas refleksi membuat blog mata kuliah Sistem Informasi Perpustakaan, saya rasa sudah baik jika kita menggunakannya di luar. Kalau kita memang ingin meningkatkan peringkat webometrics universitas kita, sudah selayaknya kita membuat blog dari luar, karena jika kita menggunakan blog yang ada dalam lentera, selain mungkin masih belum sempurna, saya rasa bot yang dikirim oleh search enginee masih belum bisa masuk karena memang halaman blog yang disetting hanya bisa dimasuki oleh mereka yang punya id saja, sedangkan jika kita berperan sebagai guest maka kita tidak akan bisa melihat blog yang kita tulis.
Keuntungan lain jika kita menggunakan blog di luar adalah akan semakin banyak tautan ke web Petra yang berasal dari luar. Tentunya tautan yang berasal dari luar akan dinilai lebih tinggi oleh search enginee daripada tautan yang berasal dari dalam. Selain itu kita juga bisa mengkustomisasi sendiri blog kita, suatu fasilitas yang mungkin masih belum dimiliki oleh lentera yang mungkin ke depannya bisa lebih dikembangkan.
Alasan lainnya yang juga sangat berhubungan dengan peningkatan webometrics adalah jika kita menggunakan blog luar maka kita bisa melakukan search enginee optimization (SEO) sendiri. Ini akan membuat peringkat web/blog kita meningkat. Jika peringkat blog kita meningkat, secara otomatis logikanya akan semakin banyak pengunjung yang masuk dalam web kita untuk mencari informasi yang tersedia, jika banyak yang mencari informasi ini lalu mengunjungi tautan yang kita buat, maka secara otomatis akan meningkatkan pula jumlah pengunjung web yang menjadi tautan tersebut sehingga web petra nantinya juga bisa semakin terkenal.
Keuntungan lain jika kita menggunakan blog di luar adalah akan semakin banyak tautan ke web Petra yang berasal dari luar. Tentunya tautan yang berasal dari luar akan dinilai lebih tinggi oleh search enginee daripada tautan yang berasal dari dalam. Selain itu kita juga bisa mengkustomisasi sendiri blog kita, suatu fasilitas yang mungkin masih belum dimiliki oleh lentera yang mungkin ke depannya bisa lebih dikembangkan.
Alasan lainnya yang juga sangat berhubungan dengan peningkatan webometrics adalah jika kita menggunakan blog luar maka kita bisa melakukan search enginee optimization (SEO) sendiri. Ini akan membuat peringkat web/blog kita meningkat. Jika peringkat blog kita meningkat, secara otomatis logikanya akan semakin banyak pengunjung yang masuk dalam web kita untuk mencari informasi yang tersedia, jika banyak yang mencari informasi ini lalu mengunjungi tautan yang kita buat, maka secara otomatis akan meningkatkan pula jumlah pengunjung web yang menjadi tautan tersebut sehingga web petra nantinya juga bisa semakin terkenal.
Perpustakaan Petra: Audio Streaming
Salah satu khayalan saya berikutnya yang mungkin bisa digunakan untuk memperlengkapi fasilitas perpustakaan Universitas Kristen Petra adalah pengadaan audio streaming. Mungkin memang hal ini masih sangat sulit untuk bisa dilakukan mengingat tingkat kejahatan yang berbau piracy di Indonesia ini masih sangat tinggi.
Tetapi ini tetap menjadi keinginan saya. Mekanismenya adalah Perpustakaan Petra membeli CD audio, lalu dishare bersama. File ini dikompres dan tidak bisa didownload oleh pengguna tetapi hanya bisa distreaming. Jadi bentuknya sama seperti Youtube atau juga iTunes Online Library, tetapi ini bentuknya adalah audio. Saya rasa tidak sulit untuk melakukan hal ini, tetapi mungkin kendalanya adalah sistem pengamanannya. Apalagi yang mungkin perlu diperhatikan adalah anak-anak dari jurusan kita sendiri yang kesukaannya adalah mencoba menemukan kelemahan suatu sistem lalu mengambil keuntungan dari dalamnya.
Jadi mungkin jika suatu saat sistem IT di perpustakaan sudah kuat, mungkin hal ini bisa dilakukan. Tetapi mungkin biaya yang dikeluarkan untuk perpustakaan kita setiap bulannya akan bertambah banyak karena juga tidak murah untuk membeli CD-CD audio ini. Diskusi lebih lanjut dapat kita saksikan di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.
Tetapi ini tetap menjadi keinginan saya. Mekanismenya adalah Perpustakaan Petra membeli CD audio, lalu dishare bersama. File ini dikompres dan tidak bisa didownload oleh pengguna tetapi hanya bisa distreaming. Jadi bentuknya sama seperti Youtube atau juga iTunes Online Library, tetapi ini bentuknya adalah audio. Saya rasa tidak sulit untuk melakukan hal ini, tetapi mungkin kendalanya adalah sistem pengamanannya. Apalagi yang mungkin perlu diperhatikan adalah anak-anak dari jurusan kita sendiri yang kesukaannya adalah mencoba menemukan kelemahan suatu sistem lalu mengambil keuntungan dari dalamnya.
Jadi mungkin jika suatu saat sistem IT di perpustakaan sudah kuat, mungkin hal ini bisa dilakukan. Tetapi mungkin biaya yang dikeluarkan untuk perpustakaan kita setiap bulannya akan bertambah banyak karena juga tidak murah untuk membeli CD-CD audio ini. Diskusi lebih lanjut dapat kita saksikan di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.
Perpustakaan Petra: Koleksi Film
Satu hal lagi yang mungkin ingin saya soroti mengenai Perpustakaan Universitas Kristen Petra adalah masalah koleksi film. Saya merasa koleksi film dalam bentuk VCD maupun DVD yang dimiliki oleh perpustakaan kita ini masih sangat kurang. Banyak pun sebagian besar adalah VCD DVD yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan seperti National Geographic, Discovery Channel, dan sebagainya. Padahal menurut saya, VCD DVD seperti ini kurang menarik perhatian mahasiswa, walaupun saya pribadi suka akan VCD DVD yang seperti ini.
Menurut saya, salah satu cara agar pengunjung lebih banyak yang ke perpustakaan dan menggunakan fasilitasnya adalah dengan melengkapi media VCD DVD yang ada. Mungkin bisa ditambahkan film-film yang mungkin tidak perlu terbaru tetapi setidaknya cukup hot (pernah diputar di bioskop-bioskop Indonesia). Saya rasa jika perpustakaan kita seperti ini, mahasiswa akan sangat tertarik menggunakan perpustakaan dan sering berkunjung ke perpustakaan.
Jadi menurut saya, salah satu hal yang perlu ditingkatkan adalah dalam hal pengadaan VCD DVD. Kemudian tempatnya juga bisa diatur sedemikian rupa sehingga tidak tampak sangat tidak teratur koleksi VCD DVD yang kita punyai. Diskusi lebih lanjut dapat kita lihat di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.
Menurut saya, salah satu cara agar pengunjung lebih banyak yang ke perpustakaan dan menggunakan fasilitasnya adalah dengan melengkapi media VCD DVD yang ada. Mungkin bisa ditambahkan film-film yang mungkin tidak perlu terbaru tetapi setidaknya cukup hot (pernah diputar di bioskop-bioskop Indonesia). Saya rasa jika perpustakaan kita seperti ini, mahasiswa akan sangat tertarik menggunakan perpustakaan dan sering berkunjung ke perpustakaan.
Jadi menurut saya, salah satu hal yang perlu ditingkatkan adalah dalam hal pengadaan VCD DVD. Kemudian tempatnya juga bisa diatur sedemikian rupa sehingga tidak tampak sangat tidak teratur koleksi VCD DVD yang kita punyai. Diskusi lebih lanjut dapat kita lihat di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.
Senin, 07 September 2009
Perpustakaan Petra: Internet Area
Menurut saya, jika di perpustakaan ditambahkan area untuk kita bisa tersambung dengan internet, mungkin pengunjung perpustakaan akan bertambah banyak. Selama ini kita masih menggunakan fasilitas qifi untuk bisa terhubung dengan internet, tetapi tampaknya fasilitas wifi yang didapat di perpustakaan ini masih sangat minim. Saya rasa jika kita bisa menyediakan tempat untuk LAN mungkin akan bisa lebih efektif.
Jadi singkatnya, menurut saya perpustakaan tinggal menyediakan tempat (mungkin bisa berupa meja-meja yang sudah ada) tetapi ditambah dengan kabel LAN dan juga koneksi listrik sehingga bisa digunakan untuk laptop. Mungkin jangan diberi akses internet keluar, tetapi cukup akses internet dalam saja, jadi bisa untuk mencari buku dan juga online journal. Saya rasa jika ada dua fasilitas ini, kalau menurut saya pribadi saya akan sering berkunjung ke perpustakaan. Karena selama ini saya juga kesulitan untuk mencari koneksi listrik di perpustakaan sehingga malas untuk membawa masuk laptop dan kerja tugas di sana.
Jadi mungkin ini bisa diperhatikan untuk ke depannya sehingga memudahkan mahasiswa bekerja juga. Informasi dan diskusi lebih lanjut dapat dilihat di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.
Jadi singkatnya, menurut saya perpustakaan tinggal menyediakan tempat (mungkin bisa berupa meja-meja yang sudah ada) tetapi ditambah dengan kabel LAN dan juga koneksi listrik sehingga bisa digunakan untuk laptop. Mungkin jangan diberi akses internet keluar, tetapi cukup akses internet dalam saja, jadi bisa untuk mencari buku dan juga online journal. Saya rasa jika ada dua fasilitas ini, kalau menurut saya pribadi saya akan sering berkunjung ke perpustakaan. Karena selama ini saya juga kesulitan untuk mencari koneksi listrik di perpustakaan sehingga malas untuk membawa masuk laptop dan kerja tugas di sana.
Jadi mungkin ini bisa diperhatikan untuk ke depannya sehingga memudahkan mahasiswa bekerja juga. Informasi dan diskusi lebih lanjut dapat dilihat di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.
Sabtu, 05 September 2009
Perpustakaan Petra: Rak Buku
Kembali mungkin akan terbentur masalah dana, mungkin jika ingin membuat perpustakaan kita tampil lebih menarik adalah dengan mengganti rak-rak buku yang berbahan besi menjadi rak-rak buku yang terbuat dari kayu yang dipoles, sehingga kesannya lebih alami dan sedap dipandang daripada terbuat dari besi. Memang penggantian ini akan makan banyak biaya, tetapi kalau dari segi keindahan, maka memang rak yang terbuat dari kayu akan lebih menarik perhatian.
Memang banyak hal yang masih perlu dikaji dalam hal ini. Sebagai contoh desain rak yang ada sekarang dibuat saling menyambung dengan menambahkan besi di bagian atas semua rak sehingga hal ini bisa digunakan untuk meminimalisasikan rak akan terjatuh atau terguling bahkan jika ada gempa sekalipun dibandingkan dengan rak-rak yang berdiri sendiri-sendiri.
Hal kedua mungkin juga biaya perawatan kayu lebih besar daripada biaya perawatan besi karena kayu sendiri berasal dari makhluk hidup yang tentunya menurut teori lebih banyak mengandung bahan organik.
Usul saya, mungkin jika ingin dilakukan penggantian seperti ini bisa dilakukan secara bertahap terhadap rak-rak bukunya. Untuk diskusi lebih lanjut mengenai kasus ini, Anda dapat bergabung dalam http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.
Memang banyak hal yang masih perlu dikaji dalam hal ini. Sebagai contoh desain rak yang ada sekarang dibuat saling menyambung dengan menambahkan besi di bagian atas semua rak sehingga hal ini bisa digunakan untuk meminimalisasikan rak akan terjatuh atau terguling bahkan jika ada gempa sekalipun dibandingkan dengan rak-rak yang berdiri sendiri-sendiri.
Hal kedua mungkin juga biaya perawatan kayu lebih besar daripada biaya perawatan besi karena kayu sendiri berasal dari makhluk hidup yang tentunya menurut teori lebih banyak mengandung bahan organik.
Usul saya, mungkin jika ingin dilakukan penggantian seperti ini bisa dilakukan secara bertahap terhadap rak-rak bukunya. Untuk diskusi lebih lanjut mengenai kasus ini, Anda dapat bergabung dalam http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.
Perpustakaan Petra: Kesenjangan Interior
Yang berikutnya saya ingin membahas mengenai kesenjangan interior yang ada di setiap lantai. Menurut saya, perpustakaan kita hanya mengembangkan interior terutama hanya di lantai pertama saja (lantai 6). Jadi kelihatannya memang di lantai ini rapi sekali dan ada barang-barang interior yang lumayan seperti bisa dilihat pada gambar di atas. Selain itu juga banyak terdapat sofa di sini yang membuat kita semakin nyaman.
Tetapi bagaimana dengan lantai 7 dan 8? Sayangnya tidak ada benda-benda yang menarik seperti ini. Padahal kebanyakan kita malah mencari buku atau mengerjakan tugas di lantai 7 dan 8, tetapi di sini tidak bisa kita temukan sofa atau benda-benda interior yang menarik. Mungkin masalahnya kembali pada dana. Tetapi sekali lagi ini hanyalah pemikiran saya untuk perpustakaan ke depan, bagaimana bisa mengembangkan perpustakaan kita.
Mungkin untuk ke depannya bisa lebih diperhatikan pula untuk pengembangan lantai 7 dan 8 sehingga diharapkan melalui pengembangan ini akan semakin banyak mahasiswa yang mau menjadikan perpustakaan sebagai center aktivitas mereka.
Untuk diskusi lebih lanjut mengenai kasus ini, Anda dapat bergabung dalam http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.
Perpustakaan Petra: Dirapikan
Ini adalah foto yang saya ambil seminggu lebih yang lalu. Lokasi tempat saya foto ini mungkin tidak akan kelihatan saat kita pertama kali masuk perpustakaan karena letaknya di sebelah kiri arah kita keluar dari lift. Tetapi jika kita akan masuk lift, atau ketika kita akan berjalan menuju ruang baca bebas, maka tentu saja akan tampak hal ini.
Sebenarnya bagi saya pribadi tidak terlalu masalah, tetapi yang memakai perpustakaan kita bukan saja dari kalangan mahasiswa Petra sendiri saja, masih ada orang-orang lain yang datang. Setidaknya menurut saya kita mau memperlihatkan bagaimana kerapian yang ada di Petra. Mungkin ini adalah rak-rak buku yang sudah tidak terpakai lagi, mungkin bisa segera disingkirkan atau sekalian saja dijual sehingga tidak menghabiskan tempat. Atau solusi lainnya bisa dicarikan tempat di gudang untuk menampung benda-benda ini.
Untuk diskusi lebih lanjut mengenai kasus ini, Anda dapat bergabung dalam http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.
Jumat, 04 September 2009
Perpustakaan Petra: Kotak ASFS
Tak kusangka waktu sudah berlalu secepat ini. Memang facebook dan SMS bisa sangat menyita waktu. Mungkin ini adalah posting terakhir saya sebelum saya berangkat ke kampus. Hal yang ingin saya bahas berikutnya adalah mengenai kotak ASFS ini. Mungkin memang bentuknya masih sangat tradisional tetapi menurut saya ini kurang menarik perhatian.
Mungkin kalau mau, papan pengumuman ini dibuat lebih norak sehingga kesannya perpustakaan di dalamnya juga bisa lebih mantap. Karena biasanya orang cenderung beranggapan akan kesan pertama. Jika kesan pertama di luar sudah wah, maka biasanya orang akan beranggapan yang ada di dalam lebih wah lagi. Demikian pula dengan papan satu ini. Kalau mau terlihat lebih mantap bisa juga dengan menggunakan papan digital (layar digital) yang biasanya ada di mall-mall yang menampilkan film yang akan ditayangkan hari tersebut di Studio 21. Mungkin kita bisa meniru hal tersebut sehingga bukan saja informasi ASFS yang ditampilkan di sana, tetapi juga koleksi film-film dan trailer-trailer yang ada tentang koleksi film yang kita punyai.
Mungkin memang sudah ada tv digital di dalam perpustakaan yang menayangkan tentang kegiatan-kegiatan dan hasil kegiatan yang sudah dilakukan oleh Petra, tetapi akan lebih baik jika movie dikhususkan layar digitalnya sehingga lebih terstruktur nantinya. Memang akan ada biaya tambahan, dan mungkin ide ini bisa dipertimbangkan lagi.
Untuk diskusi lebih lanjut mengenai kasus ini, Anda dapat bergabung dalam http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.
Perpustakaan Petra: Keamanan Komputer
Apakah di sini saya ingin membahas mengenai lihatlah komputer yang butut ini? Tentu saja tidak, karena menurut saya komputer yang sekarang tersedia di perpustakaan sudah lumayan memadai (tapi tentunya belum semua). Yang ingin saya bahas di sini adalah mengenai keamanan komputer yang ada.
Bagian belakang yang terbuka seperti ini bisa menimbulkan banyak resiko, apalagi kita tidak bisa menjamin bahwa semua anak Petra baik-baik dan tidak iseng (buktinya adalah saya sendiri, jika tidak iseng, saya tidak akan menulis artikel mengenai hal ini). Apa-apa saja yang dapat saya lakukan terhadap bagian belakang yang tidak terproteksi dengan baik ini?
- Hal pertama yang sudah saya coba tentunya adalah mengambil kabel LAN yang terhubung dengan CPU ini, lalu menyambungkannya dengan laptop saya. Di dekat komputer ini (tempat saya mengambil gambar ini) adalah di bagian agak belakang berdekatan dengan buku-buku referensi di lantai dasar. Dengan sedikitnya pengawasan ditambah dengan tersedianya arus listrik di daerah ini, maka saya dengan santai bisa duduk di sofa dan mengulur kabel LAN hingga bisa saya pakai koneksinya melalui laptop saya.
- Hal kedua, tentu saja saya bisa menancapkan flashdisk saya (walaupun yang ini belum saya coba). Bagaimana jika flashdisk saya bervirus? Atau bagaimana jika anak informatika yang suka membuat virus datang dan mencoba untuk menyebarkan virusnya melalui jaringan yang ada di perpustakaan? Bisa Anda bayangkan sendiri
Diskusi lebih lanjut dapat dilihat pada http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.
Perpustakaan Petra: Kamar Mandi
Mungkin memang agak tidak penting, tetapi ini juga berhubungan dengan kenyamanan saya pribadi saat saya berkunjung ke Perpustakaan Petra. Salah satu yang membuat saya tidak nyaman adalah kamar mandinya (tentu saja maksud saya di sini kamar mandi pria). Kemarin saya ingin memfotonya, tetapi saya akhirnya mengurungkan niat saya, jadi saya akan membahas masalah ini tanpa adanya foto.
Langsung saja, menurut saya kesan yang ditimbulkan oleh kamar mandi yang ada di perpustakaan terkesan sedikit "angker". Beberapa hal yang mungkin menurut saya membuat suasana "angker" ini mendukung di antaranya adalah
Diskusi lebih lanjut tentang bagaimana kita bisa mengembangkan perpustakaan Petra lebih lagi dapat kita bahas dalam forum di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.
Langsung saja, menurut saya kesan yang ditimbulkan oleh kamar mandi yang ada di perpustakaan terkesan sedikit "angker". Beberapa hal yang mungkin menurut saya membuat suasana "angker" ini mendukung di antaranya adalah
- Lampu penerangan yang redup
- Cahaya matahari yang masuk tidak ada sehingga terkesan tertutup sekali
- Ruangannya terkesan lapang (karena memang mungkin ini salah satu kamar mandi terluas yang ada di kampus Petra)
- Dan mungkin yang terakhir adalah seringnya timbul bunyi-bunyian yang tidak mendukung dan suara yang kecil bisa agak bergema atau menjadi lebih keras dari suara aslinya
Diskusi lebih lanjut tentang bagaimana kita bisa mengembangkan perpustakaan Petra lebih lagi dapat kita bahas dalam forum di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.
Perpustakaan Petra: Online Journal (2)
Saya ingin membahas kembali mengenai fasilitas online journal yang sudah sempat kita bahas beberapa saat yang lalu. Kalau yang lalu kita membahasnya dalam segi tidak bisa diakses dari luar, maka sekarang saya ingin membahas mengenai ketersediaan journal-journal yang ada di dalamnya.
Kalau saya boleh sedikit berkomentar, maka saya rasa online journal yang kita miliki masih sangat sedikit koleksinya dan juga kebanyakan adalah di bidang ekonomi, sedangkan journal untuk teknik masih sangat sedikit. Saya menyadari kendala yang dihadapi terutama berhubungan dengan biaya. Kita sudah langganan sekian journal saja mungkin ratusan juta yang kita keluarkan. Tetapi yang ingin saya usulkan, mengapa kita tidak mengadakan kerjasama dengan perpustakaan lain untuk bisa share ketersediaan journal ini?
Misalnya (saya lupa nama collegenya), suatu college di Australia, dia bekerjasama dengan Harvard University di Amerika untuk journal-journal terbitan Harvard dan sekitarnya sehingga bisa diakses dari college ini pula. Demikian juga Harvard bisa mengakses journal-journal yang diterbitkan oleh college ini dan mungkin juga journal-journal langganan college ini terbitan Australia.
Mungkin tidak mudah juga untuk bisa menjalin kerjasama ini, karena memang dibutuhkan juga rasa saling percaya, tetapi jika hal ini bisa dilakukan, maka kita akan dapat menghemat banyak biaya dan juga bisa mendapatkan banyak informasi.
Diskusi lebih lanjut akan hal ini dapat dilakukan di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.
Brainstorming about PCU Library
Yeah, mungkin setelah sekian lama ada banyak ide-ide yang ditumpuk untuk perpustakaan Petra, hari ini saya akan mencoba mengeluarkan ide-ide tersebut. Jadi tema kita untuk posting hari ini adalah "Brainstorming about PCU Library".
Tentu saja ide-ide yang akan diutarakan ini perlu untuk dikaji ulang kembali karena ide-ide ini hanya dikeluarkan tanpa memperhitungkan efek-efek berikutnya yang akan terjadi. Ini hanyalah gambaran mentah dari apa yang mungkin dapat membuat perpustakaan Petra lebih baik dan menarik. Beberapa di antaranya saya gabungkan juga dengan hasil wawancara bersama teman-teman yang lain.
Lebih jelas mengenai kegiatan brainstorming ini dapat dilihat pada http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.
Tentu saja ide-ide yang akan diutarakan ini perlu untuk dikaji ulang kembali karena ide-ide ini hanya dikeluarkan tanpa memperhitungkan efek-efek berikutnya yang akan terjadi. Ini hanyalah gambaran mentah dari apa yang mungkin dapat membuat perpustakaan Petra lebih baik dan menarik. Beberapa di antaranya saya gabungkan juga dengan hasil wawancara bersama teman-teman yang lain.
Lebih jelas mengenai kegiatan brainstorming ini dapat dilihat pada http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.
Kamis, 03 September 2009
Our Center Is Library
Pernah tau yang namanya Twitter? Ini adalah situs jurnal sosial yang membolehkan kita untuk terus mengupdate status kita sehingga kita bisa menengok ke belakang apa-apa saja yang telah kita lakukan di masa-masa lalu. Mungkin ada banyak yang sejenis, tetapi saya ingin membahas mengenai salah satu fitur yang disediakan oleh Twitter dan pokok bahasan utama kita mengenai perpustakaan.
Di Twitter ada fungsi untuk search tweet (shout box) orang lain yang mengandung kata yang kita cari tersebut, dan sama seperti wall facebook, ketika ada tweet yang baru, maka akan ada pesan untuk merefresh halaman karena tweet yang baru yang berhubungan dengan kata yang kita cari telah ditemukan lagi. Ketika saya mencoba untuk mengetikkan kata 'library' di kotak search, maka akan tampil 20 tweet yang mengandung kata library dan waktu penulisannya maksimal 2 minutes ago. Dan biasanya tidak sampai 5 detik atau tidak sampai 10 detik maksimal, akan ada pertambahan tweet rata-rata 5-8 tweet yang baru diupdate.
Yang ingin saya sampaikan tentunya bukan poin tentang Twitter, tetapi bagaimana perpustakaan bisa menjadi pusat kegiatan kita. Jika dibandingkan dengan Indonesia, maka hal ini tentunya berbeda sangat jauh. Kebanyakan yang menggunakan twitter adalah orang kuliah, bagaimana saya bisa tahu? Karena dari tweet yang diucapkan semuanya menjurus pada subject atau kampus. Mereka banyak menggunakan perpustakaan sebagai pusat aktivitas mereka, entah itu mendengarkan musik, membaca buku-buku mereka, dan sebagainya.
Mengapa hal ini penting menurut saya? Karena jika kita berada di perpustakaan, kita akan dipaksa untuk belajar. Saya menggunakan istilah dipaksa karena di sana kita akan mendapatkan banyak sekali informasi melalui membaca atau media informasi lainnya. Mungkin belajar ini tidak selalu berkaitan dengan subject yang kita pelajari berhubungan dengan penjurusan kita, tetapi juga bisa belajar dalam hal lain. Tidak mungkin di perpustakaan kita akan ribut sendiri atau bermain-main sendiri. Mungkin hal itu bisa juga terjadi, tetapi setidaknya akan berbeda jika kita berada di tempat lain, misal di selasar gedung kuliah dan sebagainya.
Jadi menurut saya, jika kita bisa menjadikan perpustakaan sebagai pusat kegiatan kita, maka kita akan dapat meningkatkan mutu mahasiswa dan juga pembelajaran. Semakin banyak ilmu yang kita peroleh, semakin kritis kita jadinya.
Diskusi lebih lanjut dapat dilakukan di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.
Di Twitter ada fungsi untuk search tweet (shout box) orang lain yang mengandung kata yang kita cari tersebut, dan sama seperti wall facebook, ketika ada tweet yang baru, maka akan ada pesan untuk merefresh halaman karena tweet yang baru yang berhubungan dengan kata yang kita cari telah ditemukan lagi. Ketika saya mencoba untuk mengetikkan kata 'library' di kotak search, maka akan tampil 20 tweet yang mengandung kata library dan waktu penulisannya maksimal 2 minutes ago. Dan biasanya tidak sampai 5 detik atau tidak sampai 10 detik maksimal, akan ada pertambahan tweet rata-rata 5-8 tweet yang baru diupdate.
Yang ingin saya sampaikan tentunya bukan poin tentang Twitter, tetapi bagaimana perpustakaan bisa menjadi pusat kegiatan kita. Jika dibandingkan dengan Indonesia, maka hal ini tentunya berbeda sangat jauh. Kebanyakan yang menggunakan twitter adalah orang kuliah, bagaimana saya bisa tahu? Karena dari tweet yang diucapkan semuanya menjurus pada subject atau kampus. Mereka banyak menggunakan perpustakaan sebagai pusat aktivitas mereka, entah itu mendengarkan musik, membaca buku-buku mereka, dan sebagainya.
Mengapa hal ini penting menurut saya? Karena jika kita berada di perpustakaan, kita akan dipaksa untuk belajar. Saya menggunakan istilah dipaksa karena di sana kita akan mendapatkan banyak sekali informasi melalui membaca atau media informasi lainnya. Mungkin belajar ini tidak selalu berkaitan dengan subject yang kita pelajari berhubungan dengan penjurusan kita, tetapi juga bisa belajar dalam hal lain. Tidak mungkin di perpustakaan kita akan ribut sendiri atau bermain-main sendiri. Mungkin hal itu bisa juga terjadi, tetapi setidaknya akan berbeda jika kita berada di tempat lain, misal di selasar gedung kuliah dan sebagainya.
Jadi menurut saya, jika kita bisa menjadikan perpustakaan sebagai pusat kegiatan kita, maka kita akan dapat meningkatkan mutu mahasiswa dan juga pembelajaran. Semakin banyak ilmu yang kita peroleh, semakin kritis kita jadinya.
Diskusi lebih lanjut dapat dilakukan di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.
Rabu, 02 September 2009
Children's Catalogue
Beberapa hari yang lalu, kita sudah sempat berdiskusi mengenai peran dari perpustakaan. Salah satu peran yang ada adalah untuk bisa menyediakan layanan untuk berbagai kalangan dan juga berbagai usia. Yang ingin saya soroti untuk saat ini adalah mengenai perpustakaan Petra dahulu.
Menurut saya, perpustakaan Petra masih belum maksimal dalam melaksanakan perannya terutama dalam pelayanan anak kecil. Beranjak ketika saya browsing dan menemukan situs perpustakaan Flower Mound. Kebetulan ketika saya masuk dari sebuah web perpustakaan, saya menemukan bahwa perpustakaan ini baru saya diupdate sistemnya tanggal 26 Agustus yang lalu. Salah satu yang menjadi sorotan saya adalah pembuatan children's catalogue.
Seperti yang dapat Anda lihat di atas, menurut saya desain yang ada sangat sederhana, tetapi bagi saya justru sederhana ini baik bagi anak kecil, karena mereka tidak perli terlalu susah untuk mengenal layanan-layanan yang disediakan oleh sistem baru ini. Gambar yang interaktif menurut saya akan semakin menarik minat anak kecil untuk menelusuri lebih jauh. Dan satu yang saya suka dalam layanan ini adalah, ketika kita menggunakan search enginee di dalamnya untuk mencari database buku, maka sistem ini secara otomatis akan mengarahkan kita kepada buku-buku yang memang diperuntukkan untuk anak kecil.
Perpustakaan Petra sudah cukup banyak koleksi di bidang buku anak. Mungkin memang pengguna anak-anak di perpustakaan ini masih sangat terbatas jumlahnya, tetapi mungkin kita bisa membuka diri dengan masyarakat luar atau bekerja sama dengan SD-SD yang ada di sekitar wilayah Siwalankerto untuk bisa lebih mengembangkan lagi literatur untuk anak kecil. Kita bisa meniru sistem yang dibuat oleh Flower Mound ini. Jika Anda tertarik mengunjungi situs ini, Anda dapat mengunjunginya di http://librarycatalog.flower-mound.com/polaris/Children/default.aspx. Mungkin Anda akan mendapati sistem yang ada di sini jauh lebih baik dari apa yang dapat saya jelaskan di sini.
Untuk informasi lebih lanjut dapat kita diskusikan bersama di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.
Perfume Psychology and Library
Masih ingat akan apa yang dikatakan Christianto dalam wawancara yang diterbitkan di blog ini kemarin? Saya cukup tertarik dengan apa yang menjadi kekurangan perpustakaan menurutnya. Menurutnya perpustakaan kita kurang wangi. Ini yang membuat saya akhirnya berusaha mencari-cari apa efek psikologis parfum bagi kita dan juga saya sempat bertanya-tanya kepada beberapa rekan, apa pendapat mereka tentang parfum dan bagaimana kaitannya dengan minat baca mereka.
Yeah, hari ini saya berika tema besar "Gospel's Perfume Day". Walaupun hari ini kita mungkin tidak akan membahas selurhnya tentang parfum, tetapi inilah sebagian besar yang akan kita bicarakan. Ada 3 bintang tamu kita yang akan hadir melalui wawancara nantinya.
Tetapi sebelumnya saya ingin menyampaikan apa yang saya dapatkan mengenai parfum dan juga efeknya terhadap psikologis kita. Parfum tentu saja memiliki efek psikologis terhadap orang-orang tertentu. Memang ada orang-orang yang tidak terlalu menyukai bau parfum bahkan ada beberapa orang yang alergi, karena parfum ini merupakan senyawa kimia pula. Tetapi studi yang dilakukan oleh beberapa perusahaan parfum menyatakan bahwa psikologi parfum tidak bisa disangkutkan secara global. Parfum tertentu hanya mempengaruhi orang-orang tertentu atau ras tertentu saja. Efek yang diberikan oleh suatu parfum berbeda-beda dan dipengaruhi pula oleh corak budaya dan sosial masyarakat sekitarnya. Untuk itulah sebelum meluncurkan produknya, sudah pasti suatu perusahaan parfum akan mensurvey dulu lokasi daerah yang akan menjadi pasarnya sehingga bisa tahu parfum apa yang cocok untuk dipasarkan di daerah tersebut.
Berkaitan dengan perpustakaan, sejauh ini saya belum berhasil mendapatkan artikel ataupun jurnal yang membahas masalah ini. Mungkin bisa juga dilakukan penelitian dalam hal ini apakah parfum berpengaruh terhadap minat baca seseorang. Karena terbatasnya waktu pula, maka penulis hanya melakukan riset kecil-kecilan untuk mengetahui bagaimana pendapat beberapa orang mengenai parfum dan juga hubungannya dengan minat baca mereka.
Untuk lebih jelasnya mengenai hal ini mungkin dapat kita bahas dalam http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.
Yeah, hari ini saya berika tema besar "Gospel's Perfume Day". Walaupun hari ini kita mungkin tidak akan membahas selurhnya tentang parfum, tetapi inilah sebagian besar yang akan kita bicarakan. Ada 3 bintang tamu kita yang akan hadir melalui wawancara nantinya.
Tetapi sebelumnya saya ingin menyampaikan apa yang saya dapatkan mengenai parfum dan juga efeknya terhadap psikologis kita. Parfum tentu saja memiliki efek psikologis terhadap orang-orang tertentu. Memang ada orang-orang yang tidak terlalu menyukai bau parfum bahkan ada beberapa orang yang alergi, karena parfum ini merupakan senyawa kimia pula. Tetapi studi yang dilakukan oleh beberapa perusahaan parfum menyatakan bahwa psikologi parfum tidak bisa disangkutkan secara global. Parfum tertentu hanya mempengaruhi orang-orang tertentu atau ras tertentu saja. Efek yang diberikan oleh suatu parfum berbeda-beda dan dipengaruhi pula oleh corak budaya dan sosial masyarakat sekitarnya. Untuk itulah sebelum meluncurkan produknya, sudah pasti suatu perusahaan parfum akan mensurvey dulu lokasi daerah yang akan menjadi pasarnya sehingga bisa tahu parfum apa yang cocok untuk dipasarkan di daerah tersebut.
Berkaitan dengan perpustakaan, sejauh ini saya belum berhasil mendapatkan artikel ataupun jurnal yang membahas masalah ini. Mungkin bisa juga dilakukan penelitian dalam hal ini apakah parfum berpengaruh terhadap minat baca seseorang. Karena terbatasnya waktu pula, maka penulis hanya melakukan riset kecil-kecilan untuk mengetahui bagaimana pendapat beberapa orang mengenai parfum dan juga hubungannya dengan minat baca mereka.
Untuk lebih jelasnya mengenai hal ini mungkin dapat kita bahas dalam http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.
Sabtu, 29 Agustus 2009
Perpustakaan Petra: Brosur
Kita langsung saja membahas poin yang ingin saya sampaikan di sini. Secara sederhana adalah tempat brosur, pamflet, buletin tidak digunakan secara maksimal. Pada gambar (3), gambar yang paling kanan saya berpose di bawah papan penunjuk tempat brosur, pamflet, buletin. Sedangkan gambar (2), gambar yang di tengah menunjukkan tidak ada satu pun brosur, pamflet, buletin, atau pun media sejenis lainnya yang berada di rak ini. Sedangkan gambar (1), gambar yang paling kiri menunjukkan adanya brosur di bagian depan meja sirkulasi.
Saya tidak tahu alasannya mengapa brosur-brosur (kebetulan ketika saya datang berkunjung hanya ada satu jenis brosur, tetapi biasanya ada banyak di sana) tidak diletakkan di tempat yang semestinya. Tetapi saya rasa alasannya juga karena letaknya yang kurang strategis di perpustakaan. Tujuan utama adanya brosur adalah untuk dibagikan pada orang-orang sehingga orang-orang dapat mengerti pesan yang ingin disampaikan brosur tersebut. Untuk itu jika tidak dijajakan maka sebaiknya brosur diletakkan di tempat-tempat yang strategis. Tetapi sayangnya, menurut saya letak rak brosur ini kurang strategis sehingga jarang dilihat oleh para mahasiswa. Mungkin inilah sebabnya perpustakaan tidak lagi menggunakan rak tersebut.
Tetapi yang ingin saya sampaikan di sini adalah mungkin kita bisa menggunakan kembali rak tersebut. Sayang jika sudah ada tempatnya tetapi tidak digunakan, akan jadi tempat yang sia-sia. Mungkin (ini hanya usulan cepat tanpa saya pertimbangkan lebih jauh), rak brosur ini dapat dipindah letaknya di bagian jalan akan keluar. Di sebelah meja sirkulasi. Tetapi mungkin kelemahannya penjaga sirkulasi tidak akan dapat mengawasi bagian dalam perpustakaan lebih leluasa. Atau mungkin bisa juga diletakkan di sebelah kantor di bagian turun-turunan tangga (tetapi juga saya masih belum mengukur apakah ada sisa space atau tidak). Saya rasa dua tempat ini cukup strategis untuk peletakan rak brosur yang baru. Tetapi tentu saja pendapat saya ini harus dikaji ulang lebih jauh lagi.
Jika ada kritik terhadap opini yang saya ajukan ini mungkin bisa kita diskusikan bersama di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.
Jumat, 28 Agustus 2009
Young People: Assets or Deficit?
Inilah pertanyaan para petinggi negara dalam upaya mereka untuk mengembangkan anak muda. Apakah dalam kemudaan kita, kita dipandang sebagai aset atau justru sesuatu yang merugikan bagi negara kita ini?
Tentu saja jawaban lazimnya adalah kita sebagai generasi muda dianggap sebagai beban. Mengapa demikian? Tidak perlu jauh-jauh hingga masalah berbangsa dan bernegara. Bagaimana orang tua kita memandang diri kita? Kebanyakan dari kita masih belum bekerja, masih belum bisa mencari penghasilan untuk pemenuhan hidup kita sendiri, tetapi kita banyak maunya. Apalagi dalam pengadaan barang seringkali kita tersangkut akan apa yang namanya gengsi. Kita seringkali membeli barang-barang luar yang tanpa disadari akan menurunkan produktivitas nasional bangsa.
Itu baru di satu sisi. Jiwa anak muda yang pemberontak bukan saja dialami oleh orang tua, tetapi dalam berbangsa pun demikian. Apakah para petinggi tidak pusing dengan banyaknya demo yang biasanya dipelopori oleh anak muda atau biasanya adalah mahasiswa? Saya tidak bilang bahwa demo itu adalah sesuatu yang buruk. Demo perlu sebagai bagian dari demokrasi negara ini. Tetapi saya ingin mengajak kita untuk berpikir di pihak yang kita protes. Apa jadinya jika kita adalah pihak yang diprotes? Bukankah itu akan semakin menghambat ruang gerak kita?
Belum lagi masalah tingginya angka pengangguran lulusan muda. Pernikahan di usia muda. Studi ke luar lalu tidak kembali. Dan sebagainya. Ada banyak hal "negatif" ketimbang "positif" yang dirasakan petinggi negara terhadap adanya kaum muda di negara ini. Apakah hal ini benar adanya?
Saya sebagai kaum muda walaupun merasa diserang dengan kata-kata ini terpaksa harus berkata "ya". Mungkin kesadaran saya sebagai anak muda akan negara ini masih sangat kecil. Mungkin saya tahu apa yang harusnya dilakukan untuk memaksimalkan peran saya dalam negara ini. Tetapi mungkin jiwa pemberontak kita masih cukup kental dalam hal ini.
Apa yang sekarang bisa kita lakukan untuk memaksimalkan peran kita dalam negara ini? Kembali ke masalah service learning. Saya kembali merasakan bahwa di sinilah kita diuji secara "kecil-kecilan" bagaimana kita mau peduli terhadap bangsa ini. Di sini kita bisa membuktikan bahwa peran kita sebagai pengganggu itu adalah anggapan yang salah. Kita juga berperan dalam kemajuan negara ini melalui apa yang kita lakukan.
Informasi lebih lanjut mengenai service learning dapat Anda lihat di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net
Tentu saja jawaban lazimnya adalah kita sebagai generasi muda dianggap sebagai beban. Mengapa demikian? Tidak perlu jauh-jauh hingga masalah berbangsa dan bernegara. Bagaimana orang tua kita memandang diri kita? Kebanyakan dari kita masih belum bekerja, masih belum bisa mencari penghasilan untuk pemenuhan hidup kita sendiri, tetapi kita banyak maunya. Apalagi dalam pengadaan barang seringkali kita tersangkut akan apa yang namanya gengsi. Kita seringkali membeli barang-barang luar yang tanpa disadari akan menurunkan produktivitas nasional bangsa.
Itu baru di satu sisi. Jiwa anak muda yang pemberontak bukan saja dialami oleh orang tua, tetapi dalam berbangsa pun demikian. Apakah para petinggi tidak pusing dengan banyaknya demo yang biasanya dipelopori oleh anak muda atau biasanya adalah mahasiswa? Saya tidak bilang bahwa demo itu adalah sesuatu yang buruk. Demo perlu sebagai bagian dari demokrasi negara ini. Tetapi saya ingin mengajak kita untuk berpikir di pihak yang kita protes. Apa jadinya jika kita adalah pihak yang diprotes? Bukankah itu akan semakin menghambat ruang gerak kita?
Belum lagi masalah tingginya angka pengangguran lulusan muda. Pernikahan di usia muda. Studi ke luar lalu tidak kembali. Dan sebagainya. Ada banyak hal "negatif" ketimbang "positif" yang dirasakan petinggi negara terhadap adanya kaum muda di negara ini. Apakah hal ini benar adanya?
Saya sebagai kaum muda walaupun merasa diserang dengan kata-kata ini terpaksa harus berkata "ya". Mungkin kesadaran saya sebagai anak muda akan negara ini masih sangat kecil. Mungkin saya tahu apa yang harusnya dilakukan untuk memaksimalkan peran saya dalam negara ini. Tetapi mungkin jiwa pemberontak kita masih cukup kental dalam hal ini.
Apa yang sekarang bisa kita lakukan untuk memaksimalkan peran kita dalam negara ini? Kembali ke masalah service learning. Saya kembali merasakan bahwa di sinilah kita diuji secara "kecil-kecilan" bagaimana kita mau peduli terhadap bangsa ini. Di sini kita bisa membuktikan bahwa peran kita sebagai pengganggu itu adalah anggapan yang salah. Kita juga berperan dalam kemajuan negara ini melalui apa yang kita lakukan.
Informasi lebih lanjut mengenai service learning dapat Anda lihat di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net
Kamis, 27 Agustus 2009
New Era of Responsibility
Mengutip kata-kata yang pernah diucapkan oleh Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama:
Tentu sekarang kita tidak asing lagi dengan yang namanya individualis. Sejak awal kita masuk di perkuliahan, terutama di Universitas Kristen Petra, kita telah belajar tentang etika. Salah satu hal yang dapat kita amati adalah perilaku individualis yang terus meningkat keberadaannya dalam masyarakat kita. Mungkin ini juga yang menjadi latar belakang tugas etika yang dibebankan kepada kita untuk bisa dekat dengan masyarakat. Kita diberi tugas selama satu semester untuk berinteraksi dengan orang-orang yang tidak kita kenal di sekeliling kita. Bukan hanya sekedar tahu apa saja tentang kehidupannya, tetapi kita diharapkan untuk bisa menjadi "teman" dalam kehidupannya.
Lalu mengapa saya tertarik akan hal ini? Saya rasa hal ini dapat kita kaitkan dengan service learning yang akan kita lakukan. Baik kita dalam mata kuliah Sistem Informasi Perpustakaan, Komunikasi Interpersonal, atau mungkin mata kuliah lainnya di mana kita punya kerinduan untuk menerapkan ilmu yang kita miliki terhadap masyarakat sekitar kita. Saya rasa ini adalah langkah awal yang baik untuk kita bisa menjalin hubungan yang lebih dalam terhadap sekeliling kita.
Saya rasa kata-kata yang diucapkan oleh presiden Barrack Obama di atas tidak hanya berlaku bagi masyarakat Amerika. Sudah saatnya kita sebagai masyarakat Indonesia sadar kalau selama ini kita cenderung memikirkan diri kita atau kelompok kita sendiri. Kita lupa bahwa di luar sana ada orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita. Kita lupa bahwa masih banyak aspek yang harus dikembangkan untuk membuat kemajuan dalam negara kita ini. Kalau bukan dimulai dari kita, siapa lagi yang akan memulainya?
Sudah saatnya kita keluar dari tempat ini. Sebagai evangelical university, penerapan service learning menurut saya sangat sesuai. Dengan service learning kita bisa melayani dan memberitakan Injil melalui perbuatan kita di luar sana.
Informasi lebih lanjut mengenai service learning dapat Anda lihat di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net
What is required of us now is a new era of responsibility — a recognition, on the part of every American, that we have duties to ourselves, our nation, and the world, duties that we do not grudgingly accept but rather seize gladly, i rm in the knowledge that there is nothing so satisfying to the spirit, so dei ning of our character, than giving our all to a difi cult task. This is the price and the promise of citizenship.
Tentu sekarang kita tidak asing lagi dengan yang namanya individualis. Sejak awal kita masuk di perkuliahan, terutama di Universitas Kristen Petra, kita telah belajar tentang etika. Salah satu hal yang dapat kita amati adalah perilaku individualis yang terus meningkat keberadaannya dalam masyarakat kita. Mungkin ini juga yang menjadi latar belakang tugas etika yang dibebankan kepada kita untuk bisa dekat dengan masyarakat. Kita diberi tugas selama satu semester untuk berinteraksi dengan orang-orang yang tidak kita kenal di sekeliling kita. Bukan hanya sekedar tahu apa saja tentang kehidupannya, tetapi kita diharapkan untuk bisa menjadi "teman" dalam kehidupannya.
Lalu mengapa saya tertarik akan hal ini? Saya rasa hal ini dapat kita kaitkan dengan service learning yang akan kita lakukan. Baik kita dalam mata kuliah Sistem Informasi Perpustakaan, Komunikasi Interpersonal, atau mungkin mata kuliah lainnya di mana kita punya kerinduan untuk menerapkan ilmu yang kita miliki terhadap masyarakat sekitar kita. Saya rasa ini adalah langkah awal yang baik untuk kita bisa menjalin hubungan yang lebih dalam terhadap sekeliling kita.
Saya rasa kata-kata yang diucapkan oleh presiden Barrack Obama di atas tidak hanya berlaku bagi masyarakat Amerika. Sudah saatnya kita sebagai masyarakat Indonesia sadar kalau selama ini kita cenderung memikirkan diri kita atau kelompok kita sendiri. Kita lupa bahwa di luar sana ada orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita. Kita lupa bahwa masih banyak aspek yang harus dikembangkan untuk membuat kemajuan dalam negara kita ini. Kalau bukan dimulai dari kita, siapa lagi yang akan memulainya?
Sudah saatnya kita keluar dari tempat ini. Sebagai evangelical university, penerapan service learning menurut saya sangat sesuai. Dengan service learning kita bisa melayani dan memberitakan Injil melalui perbuatan kita di luar sana.
Informasi lebih lanjut mengenai service learning dapat Anda lihat di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net
Rabu, 26 Agustus 2009
Service Learning: It's Youth Time
Saya tidak tahu apakah pemikiran saya ini bisa diterima atau tidak, tetapi orang-orang yang berperan dalam service learning sebagaian besar adalah kita anak muda. Tanpa bermaksud menyindir pihak-pihak tertentu, generasi tua (misal guru, dosen, pembimbing lain) dalam kegiatan service learning memang berpengaruh, tetapi peran mereka kebanyakan hanya sebatas mengarahkan dan memotivasi kita generasi muda. Sedangkan kita, kita langsung terjun ke lapangan. Kita yang berinterkasi secara langsung dalam penerapan ilmu kita dalam masyarakat.
Coba kita cari lebih jauh dalam mesin pencari Google atau yang lainnya. Saat kita mengetikkan keyword service learning, maka kebanyakan yang keluar adalah tentu saja katalog dan pengertian service learning, dan kedua yang terbanyak adalah gerakan anak-anak muda terutama di Amerika yang menerapkan kegiatan service learning ini.
Poin yang ingin saya sampaikan di sini adalah:
Coba kita cari lebih jauh dalam mesin pencari Google atau yang lainnya. Saat kita mengetikkan keyword service learning, maka kebanyakan yang keluar adalah tentu saja katalog dan pengertian service learning, dan kedua yang terbanyak adalah gerakan anak-anak muda terutama di Amerika yang menerapkan kegiatan service learning ini.
Poin yang ingin saya sampaikan di sini adalah:
- Sebagai anak muda yang telah diberi kesempatan dalam service learning, mari kita lakukan ini dengan sungguh-sungguh. Banyak mereka yang lain ingin berperan dalam kegiatan kita ini (membantu masyarakat sekitar) tetapi mereka tidak memadai pengetahuannya dalam bidang yang ingin dibantu. Kita sebagai mahasiswa yang telah banyak mendapat ilmu, mari kita berusaha menerapkan ilmu-ilmu yang sudah kita peroleh sejauh ini untuk kemajuan bangsa ini juga.
- Kebanyakan kegiatan ini dilakukan di negara-negara barat yang liberal. Kita sebagai masyarakat Indonesia yang mengaku sebagai negara berdemokrasi dan menjunjung tinggi asas kekeluargaan, masakan kita kalah dengan anak-anak muda barat? Harusnya kita bisa lebih baik dari mereka karena di sini hubungan kekeluargaan kita setidaknya jauh lebih tinggi.
Langganan:
Postingan (Atom)
