Tampilkan postingan dengan label Libraries in the World. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Libraries in the World. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 September 2009

Browse Jay Walker's Library (6)


Gadget Lab A brand-new One Laptop per Child XO, far left, sits next to a relatively ancient RadioShack TRS-80 Model 100. In back, a 1911 typewriting machine and a 1909 Kent radio. The large contraption at center is the Nazis' supposedly unbreakable Enigma code machine. The book to its left is a copy of Johannes Trithemius' 1518 Polygraphiae, a cryptographic landmark. On the right is an Apple II motherboard signed by Woz. An Edison kinetoscope sits beside an 1890 Edison phonograph (along with three of the wax cylinders it uses for recording). Nearby is a faithful copy of Edison's lightbulb. The gadget with the tubes is an IBM processor circa 1960. In front of it stands a truly ancient storage device, a Sumerian clay cone used to record surplus grain.

From: Wired Magazine issues 16.10

Browse Jay Walker's Library (5)


Reading Room In the foreground are several early-20th-century volumes with jeweled bindings—gold, rubies, and diamonds—crafted by the legendary firm Sangorski & Sutcliffe. On the table (first row, from left) is a 16th-century book of jousting, a Dickens novel decorated with the author's portrait, and (open, with Post-it flags) an original copy of the 1493 Nuremberg Chronicle, the first illustrated history book. Second row: the 1535 Coverdale Bible (the first completely translated into modern English), a medieval tome with intricate illustrations of dwarfs, a collection of portraits commissioned at a 17th-century German festival ("Facebook in 1610!"), a tree-bark Indonesian guide to cannibalism, and a Middle Eastern mother goddess icon from around 5000 BC.

From: Wired Magazine issues 16.10

Browse Jay Walker's Library (4)


Inspiration Point Walker frequently meets with the Walker Digital brain trust in the seating area of the library, hoping to draw inspiration from the surroundings. Artist Clyde Lynds (known for integrating fiber optics into his work) created the intricate illuminated glass panels and many other visual elements. Walker himself designed the Escher-like tile floor, modeled after a tumbling block pattern from the Victorian age. He bought the chandelier (seen in the Bond film Die Another Day) at an auction and rewired it with 6,000 LEDs. The open book on the table features watercolor illustrations for an 18th-century papal palace that was never built. The globe has special meaning for Walker: "It was a wedding gift Eileen and I received in 1982."

From: Wired Magazine issues 16.10

Browse Jay Walker's Library (3)


Planetarium The massive "book" by the window is a specially commissioned, internally lit 2.5-ton Clyde Lynds sculpture. It's meant to embody the spirit of the library: the mind on the right page, the universe on the left. Pointing out to that universe is a powerful Questar 7 telescope. On the rear of the table (from left) are a globe of the moon signed by nine of the 12 astronauts who walked on it, a rare 19th-century sky atlas with white stars against a black sky, and a fragment from the Sikhote-Alin meteorite that fell in Russia in 1947—it's tiny but weighs 15 pounds. In the foreground is Andrea Cellarius' hand-painted celestial atlas from 1660. "It has the first published maps where Earth was not the center of the solar system," Walker says. "It divides the age of faith from the age of reason."

From: Wired Magazine issues 16.10

Browse Jay Walker's Library (2)


Jay's Anatomy "What's so wonderful about our knowledge of the human body is how remarkably constrained it has been over time," Walker says. In the center of the table sits the Anatomia universa, an early-19th-century medical masterwork by the Italian illustrator Paolo Mascagni. At front right is a field tool kit for Civil War surgeons. Grasping the box of prosthetic eyeballs at left is the original "Thing" hand from the TV show The Addams Family, signed by the cast. In front of the 19th-century phrenological bust is a book, from about 1500, containing the first published illustrations of surgery on humans. "Pre-anesthesia, of course" Walker says. At the rear are a 300 million-year-old trilobite fossil, a raptor skeleton, and a clutch of fossilized dinosaur eggs.

From: Wired Magazine issues 16.10

Browse Jay Walker's Library (1)


The View From Above Looming over the library is an original Sputnik 1 satellite, one of several backups the Soviets built. At far left is a model of NASA's experimental X-29 jet, with forward-swept wings. "It's the first plane that a pilot can't fly—only computers can handle it," Walker says. On the top of the center shelves are "scholar's rocks," natural formations believed by the Chinese to spur contemplation. Behind the rocks is a 15-foot-long model of the Saturn V rocket.

From: Wired Magazine issues 16.10

Senin, 31 Agustus 2009

Famous Library #1 : Bibliotheca Alexandrina (2)


Dimensi pengerjaan proyek ini sangat luas. Dalam proyek ini bukan saja terdapat perpustakaan yang mampu menampung hingga delapan juta buku, tetapi juga terdapat ruang baca yang luasnya 70000 m² di 11 lantai yang ada. Kompleks ini juga mempunyai sebuah ruangan konferensi, ada pula perpustakaan khusus untuk para tunanetra, anak muda, dan anak-anak. Terdapat pula tiga museum, 4 galeri seni, sebuah planetarium, dan sebuah laboratorium restorasi manuskrip kuno.

Ruang baca utamanya berdiri sepanjang dari 32 meter yang menghadap ke laut dan diameternya adalah 160 meter. Dindingnya bewarna abu-abu seperti batu granit yang banyak terdapat di Aswan, yang dilukisi dengan berbagai karakter dari 120 skrips peradaban manusia di dunia.

Koleksi yang ada di perpustakaan ini merupakan hasil sumbangan dari seluruh dunia. Spanyol menyumbangkan dokumennya tentang detil masa pemerintahan Moors. Perancis juga memberikan sumbangan berupa dokumen yang mencatat pembangunan Terusan Suez. Di perpustakaan ini juga tempat mengcopy data-data yang ada di internet sebagai backup.

Mengenai manajemennya, direktur Bibliotheca Alexandrina sekarang dipegang oleh Ismail Serageldin. Dia juga merupakan pimpinan direktur dari setiap BA's affiliated research institutes and museums dan juga merupakan seorang professor di Wageningen University di Belanda.

Mimpi untuk mengembalikan Alexandria kepada fungsi awalnya sebagai pusat sains tidak lepas dari kritikan banyak pihak. Para ahli mempertanyakan apakah Mesir yang sekarang mampu untuk mensuplai perpustakaan dengan materi-materi yang dibutuhkannya, atau apakah pemerintahannya mampu melakukan penyensoran terhadap benda-benda yang terdapat di dalamnya. Hal lain lagi, mengenai arsitektur perpustakaan ini (yang bentuknya diambil dari matahari terbit) dikritik terlalu makan banyak biaya daripada koleksi-koleksi yang ada di dalamnya. Karena terbatasnya dana yang ada, maka pada tahun 2002, perpustakaan ini hanya memiliki 500000 koleksi buku, lebih rendah daripada perpustakaan nasional lainnya. Diperkirakan butuh waktu 80 tahun lamanya untuk mengisi koleksi perpustakaan sampai batas yang bisa ditampung oleh bangunan ini. Perpustakaan ini sangat bergantung dari donasi dari yang lain untuk mengisi koleksinya. Komplain lainnya juga berdatangan, misalnya daripada dana tersalurkan untuk perpustakaan ini, dana bisa dialihkan untuk social project lainnya. Seperti Mesir punya masalah pendidikan. Menurut survey, hanya 59% wanita dan 83% pria yang dapat membaca di negaranya.

Jika Anda mempunyai informasi tambahan mengenai perpustakaan ini, atau mungkin Anda sudah pernah mengunjunginya, Anda dapat membaginya bersama kami di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Minggu, 30 Agustus 2009

Famous Library #1 : Bibliotheca Alexandrina (1)

Bibliotheca Alexandrina merupakan nama latin dari Perpustakaan Alexandria merupakan perpustakaan penting dan juga pusat kebudayaan yang terletak di pantai Laut Mediterania di kota Alexandria. Perpustakaan ini didirikan sebagai peringatan akan Perpustakaan Alexandria yang pernah hancur dan mengembalikan fungsi yang pernah dilakukan oleh perpustakaan ini, yaitu sebagai pusat pendidikan.

Ide untuk menghidupkan kembali perpustakaan ini bermula pada tahun 1974, ketika sebuah komite dibentuk oleh University of Alexandria yang tugasnya menentukan lokasi di mana akan dibangun perpustakaan baru ini antara kampus dan lepas pantai Laut Mediterania yang juga tentunya berdekatan dengan lokasi awal perpustakaan aslinya pernah berdiri. Tetapi dalam proses perjalanan komite ini, ide untuk membangun perpustakaan ini dengan cepat mendapat dukungan dari pihak yang lain pula. Salah satu pendukung proyek ini adalah presiden Mesir yang saat ini masih menjabat, Hosni Mubarak. UNESCO dengan cepat juga menyatakan dukungannya terhadap proyek ini karena juga di daerah ini sangat strategis untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Mediteranian. UNESCO kemudian mengadakan kompetisi desain arsitektur pada tahun 1988 yang nantinya akan digunakan untuk membangun perpustakaan yang baru ini. Pemenang dari kompetisi ini adalah Snohetta yang mampu memadukan unsur desain dan warisan kebudayaan yang ada. Snohetta yang merupakan penduduk Norwegia ini mengalahkan 1400 desain yang ada. Pada suatu konferensi yang diadakan pada tahun 1990 di Aswan, dana awal yang diturunkan untuk pembangunan ulang perpustakaan ini adalah sebesar $65 juta, yang sebagian besar dananya berasal dari Arab. Pengerjaan konstruksi bangunan dimulai pada tahun 1995 dan setelah menghabiskan $220 juta, bangunan ini diresmikan berdiri pada 16 Oktober 2002.

Mungkin seperti ini sejarah singkat bagaimana perpustakaan lama yang telah terhilang ini bisa dihidupkan kembali. Dan mengenai bagaimana struktur dan koleksi apa saja yang ada dalam perpustakaan ini, diharapkan Anda sabar menunggu hingga hari esok. Atau jika Anda tertarik lebih dalam belajar mengenai perpustakaan ini, Anda dapat mencari bahan-bahan referensi dari internet dan juga dengan mengunjungi http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Sabtu, 29 Agustus 2009

Great Libraries of the Ancient World #3 : Library of Alexandria (1)


Royal Library of Alexandria, atau juga biasa disebut perpustakaan kuno Alexandria mungkin adalah yang paling kita kenal. Banyak buku-buku sejarah kita yang menuliskan tentang adanya perpustakaan ini. Salah satu situs yang berada pada kota yang pernah menjadi pusat dunia, Alexandria. Mungkin memang tidak salah kalau perpustakaan ini yang paling terkenal, karena memang inilah perpustakaan kuno yang terbesar yang pernah ada (tergantung pula sebenarnya dengan penafsiran kita akan arti kata "kuno").

Perpustakaan ini awalnya berada di bawah naungan dinasti Ptolemaic dan masih tetap bertahan hingga saat ini. Perpustakaan ini fungsi utamanya pada saat itu adalah sebagai pusat pendidikan atau keilmuan dan hal ini terus bertahan hingga masa Roma menduduki Mesir. Tetapi juga beberapa ahli menyatakan walaupun Mesir telah jatuh ke tangan Roma, perpustakaan ini masih tetap menjadi pusat pendidikan selama beberapa waktu berikutnya.

Para ahli memperkirakan berdirinya perpustakaan ini adalah pada abad ketiga sebelum masehi. Diperkirakan didirikan pada waktu pemerintahan Ptolemy I Soter atau dalam masa pemerintahan Ptolemy II. Plutarch (seorang sejarawan Yunani, penulis biografi, essay dan penganut Platonist) menuliskan bahwa selama masa kunjungannya ke Alexandria pada waktu tahun 48 BCE, Julius Caesar secara tidak sengaja membakar perpustakaan saat dia menggunakan api di kapalnya sendiri untuk membuat frustasi Achillas sehingga membatasi komunikasinya di laut. Menurut Plutarch, api yang berasal dari kapal Julius Caesar menyebar ke arah dock lalu menyebar lagi membakar perpustakaan.

Tetapi yang masih menjadi perdebatan adalah apa yang ditulis oleh Plutarch ini tidak disebutkan dalam naskah kontemporer yang mencatat kunjungan Julius Caesar. Tetapi yang dapat dipastikan di sini adalah koleksi dari perpustakaan ini entah hilang atau dihancurkan telah mengalami pengurangan entah itu selama abad pertama sebelum masehi ataupun sesudahnya.

Sebagai peringatan akan pernah adanya perpustakaan ini, pada tahun 2002 telah diresmikan kembali Bibliotecha Alexandrina di dekat situs perpustakaan lama. Mungkin sebelum kita membahas lebih jauh mengenai perpustakaan ini lebih mendetail, ada baiknya kita juga belajar mengenai Library of Alexandria modern di zaman ini. Anda penasaran? Tunggulah hari esok.

Lebih jelas mengenai perpustakaan kuno dapat kita bahas di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Jumat, 28 Agustus 2009

Great Libraries of the Ancient World #2 : Library of Ashurbanipal


Nama lengkapnya adalah The Royal Library of Ashurbanipal yang didirikan oleh Raja Ashurbanipal, raja terakhir dari Kekaisaran Asiria Baru. Di sini menyimpan ribuan tablet tanah liat dan juga fragmen-fragmen yang berisi teks berbagai macam jenis dari abad ke-7 sebelum masehi. Saat pertama kali ditemukan, ada banyak potongan-potongan yang berserakan yang membuat para ahli kesusahan dalam merekonstruksi ulang teks-teks aslinya, meskipun ada beberapa yang memang berhasil diselamatkan.

Fragmen-fragmen ini ditemukan di daerah arkeologis di Kouyunjik yang diperkirakan merupakan kota Niniwe dalam Perjanjian Lama, di utara Mesopotamia. Situs ini dapat ditemui di Iraq saat ini.

Pertama kali situs ini ditemukan oleh Austen Henry Layard, sebagian besar teks yang ada di sini dudah dipindahkan ke Inggris dan sekarang dapat dilihat di British Museum. Tetapi yang sebenarnya bukan Austen Henry yang menemukan pertama kali, situs ini sudah dikenal sejak tahun 1849 yang bernama South-West Palace yang merupakan Royal Palace dari Raja Sennacherib.

Tiga tahun kemudian, Hormuzd Rassam, yang merupakan pelayan dari Layard, menemukan tempat sejenis "perpustakaan" di istana Raja Ashurbanipal, di sisi kebalikan mound. Sayangnya, tidak ada yang mencatat sewaktu ditemukan di tempat aslinya, karena saat diangkut dan sampai di Eropa, tablet-tablet ini bercampur dengan tablet dari situs lainnya sehingga sulit untuk dikenali lebih jauh. Untuk itulah sekarang hampir tidak mungkin untuk membedakan mana tablet yang berasal dari kedua perpustakaan tersebut.

Ashurbanipal suka dengan literatur, dan merupakan seorang kolektor tablet dan text yang sabar. Dia mengirimkan orang-orangnya untuk pergi ke seluruh Kerajaan Asiria Baru untuk mengumpulkan teks-teks kuno. Dia mempekerjakan ilmuan untuk mengkopi teks-teks yang ada, terutama dari sumber Babylonia.

Fragmen dari Royal Library meliputi royal inscription, ramalan, mitos, dan religius teks, kontrak, pemberian anugerah, surat pemerintahan, dan berbagai macam administrasi negara lainnya. Beberapa dari teks menyangkut masalah kesucian, omen, inkanasi, dan himne untuk berbagai tuhan, yang lainnya berkaitan dengan pengobatan, astronomi, dan literatur. The Epic of Gilgamesh, yang merupakan puisi terbesar dari Babilonia Kuno ditemukan dalam perpustakaan ini seperti juga Enuma Elis kisah penciptaan. Juga mitos mengenai Adapa, manusia pertama. Ada juga cerita tentang Poor Man of Nippur. Teks-teks ini ditulis dalam bahasa Akkadia pada script cuneiform.

Niniwe dihancurkan pada 612 sebelum masehi dengan koalisi antara Babylonia, Sythians dan juga Medes, orang Iran Kuno. Dipercayai, selama istana kerajaan terbakar, sebuah kebakaran yang besar pastilah menghancurkan perpustakaan dan membuat tablet tanah liat menjadi setengah terpanggang. Paradoksnya, peristiwa yang berpotensi destruktif ini malah membantu keberadaan tablet-tablet tersebut hingga sekarang. Sama baiknya seperti teks-teks yang ada pada tablet tanah liat, beberapa tablet membeku di dinding sebagai akibat telah kehilangan sifat alaminya.

Database dari British Museum menyebutkan ada 30943 tablet di seluruh koleksi Niniveh Library, dan Trustee of the Museum menawarkan akan mengupdate katalog sebagai bagian dari Ashurbanipal Library Project dari British Museum. Jika fragmen yang lebih kecil yang sebenarnya merupakan bagian dari teks yang sama tereduksi, tetapi, hal ini sama seperti perpustakaan yang sesungguhnya hanya mempunyai 10000 teks saja. Dokumen-dokumen asli yang ada di perpustakaan sebenarnya mungkin punya nilai yang lebih besar dibandingkan dengan papirus, tablet tanah liat ataupun tablet yang telah beku yang ada di British Library.

Mungkin ini sedikit mengenai Library of Ashurbanipal. Jika mungkin ada informasi tambahan dapat diberikan melalui http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.

Kamis, 27 Agustus 2009

Great Libraries of the Ancient World #1 : Libraries of Ugarit

Secara singkat dapat dikatakan mungkin ini adalah perpustakaan yang tertua di dunia. Di dalamnya terdapat arsip-arsip diplomatik, karya-karya literatur dan juga data-data masalah kepemilikan.

Perpustakaan ini didirikan pada zaman ketika manusia memasuki zaman perunggu sehingga literatur yang ada ditemukan ditulis dalam bentuk tablet. Literatur ini berupa teks-teks mitologi yang ditulis dalam bentuk puisi naratif, surat, dokumen-dokumen legal seperti pemindahan tanah, beberapa perjanjian internasional, dan beberapa surat-surat administrasi. Dari pecahan-pecahan bentuk puisi yang ada, dapat kita ketahui literatur yang ada berupa: Legenda Kirtu, Legenda Danel, cerita tentang Ba'al yang spesifiknya Baal-Hadad yang bermasalah dengan Yam dan Mot, dan masih banyak lagi pecahan yang lainnya.

Penemuan arsip-arsip yang ada dalam perpustakaan ini, memiliki nilai yang besar dalam ilmu kepustakaan, arsip-arsip ini merupakan yang pertama kali ditemukan menjelaskan tentang informasi detil mengenai kepercayaan orang Kanaan selama masa adanya orang-orang Israel di sana. Literatur-literatur ini menunjukkan kesamaan dengan apa yang tertulis dalam kitab-kitab Ibrani, terlebih di bidang kekudusan dan juga puisi-puisinya. Puisi-puisi Ugaratic mempunyai banyak elem yang nantinya akan kita ketemui dalam puisi Ibrani dalam hal pararelism, panjangnya, dan rutmenya. Penemuan literatur di Ugarit ini membimbing kita ke pendekatan baru mengenai Perjanjian Lama dalam Alkitab kita sekarang.

Lebih jelas mengenai perpustakaan kuno dapat kita bahas di http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.