Nah, setelah saya searching-searching sekian lama, akhirnya saya dapatkan artikel yang bagus ini. Masih ingat akan ProQuest? Ini adalah (entah organisasi atau sistem) yang menyediakan layanan online journal atau media informasi lainnya dari berbagai publikasi yang ada. Tentu saja layanan ini di hari-hari biasa tidak gratis, tetapi beruntung juga saya hari ini bisa mendapatkan artikel yang ditulis oleh E-VIEWS.
Pada tanggal 30 Agustus sampai 5 September yang merupakan minggu yang diperingati sebagai National Historically Black Colleges and University, ProQuest mengijinkan kita untuk mengakses media-media informasi yang ada di dalamnya. Kunjungi saja situs berikut ini
http://bsc.chadwyck.com/?instit1=hbcutrial2&instit2=hbcutrial2
Jangan sia-siakan kesempatan ini, ada banyak hal menarik yang ada di dalamnya. Black Studies Center berisi media informasi dari 150 publikasi dengan 30 volume materi kontekstual, 2000+ gambar, 200+ video klip, 3 index menuju Black works dan juga optional module (termasuk The History Makers yang merupakan kumpulan dari 100 interview terhadap contemporary African Americans yang berhasil di bidangnya dan meningkatkan martabat orang berkulit hitam)
Informasi lebih lanjut bisa dilihat pada http://lentera.petra.ac.id dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net.
Tampilkan postingan dengan label Library Journal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Library Journal. Tampilkan semua postingan
Selasa, 01 September 2009
Senin, 24 Agustus 2009
Pengiriman Informasi 24/7 Melalui Video
Ada satu hal yang menarik saya hari ini untuk belajar lebih jauh mengenai sistem perpustakaan yang dimiliki Arizona State University (yang selanjutnya akan disingkat ASU) di Downtown Phoenix. Hari ini saya membaca sebuah tutorial yang diambil dari jurnal Information Technology and Libraries edisi September 2009. Bukan tutorialnya yang menarik perhatian saya, tetapi basa basi awalnya yang menarik bagi saya.
Dalam jurnal ini disebutkan bahwa ASU mengembangkan suatu metode pembelajaran menggunakan sebuah software berbasis screen capture. Dan satu hal yang menarik bagi saya, kegiatan ini dilakukan oleh librarians (para pustakawan). Memang dosennya yang melakukan kegiatan perekaman presentasi sambil berbicara menggunakan microphone untuk membuat media pembelajaran ini, tetapi yang ingin saya soroti kali ini adalah peran para pustakawan dalam mengelola media ini.
Jika kita bandingkan dengan kampus kita Petra, mungkin saat ini peran pustakawan dalam bidang ini masih sangat terbatas atau bahkan boleh dibilang tidak ada sama sekali. Kalau kita perhatikan, media-media pembelajaran yang dibuat oleh dosen biasanya dikelola oleh dosen secara pribadi sehingga mahasiswa yang bisa memperoleh informasi hanya mahasiswa yang berada di kelas yang diajar oleh dosen tersebut atau yang mengambil mata kuliah tersebut.
Mungkin penjelasan saya di atas terlalu berbelit, tetapi poin yang ingin saya sampaikan cukup mudah. Intinya, jika para pustakawan yang mengelola media pembelajaran ini, maka media pembelajaran ini akan dapat dilihat dan dipakai oleh semua kalangan. Misalnya saya adalah anak informatika yang ingin membuat program untuk mensimulasikan model jembatan yang kuat. Saya sebagai anak informatika tentu tidak diajarkan bagaimana teknik membuat jembatan yang kuat, demikian pula dosen pembimbing saya dari informatika. Terpaksa mungkin saya harus mencari dosen pembimbing dari jurusan teknik sipil atau berusaha mencari buku-buku yang berhubungan dengan jembatan. Tetapi tentu saja hal ini tidak efektif, karena dengan mempelajari buku, biasanya buku akan membahasnya terlalu detil atau dengan bahasa yang sulit kita mengerti, sedangkan kita baru mengerti isi buku tersebut jika sudah dijelaskan oleh dosen.
Ini adalah poin yang ingin saya sampaikan. Jika para dosen memberikan bahan materinya kepada para pustakawan, maka kita akan dengan mudah bisa mengakses apa yang diajarkan di kelas perancangan jembatan tanpa kita harus mengikuti kelas tersebut, sehingga kita pun bisa belajar sendiri. Walaupun mungkin kita masih tetap memerlukan peran dosen pembimbing.
Dan saya rasa hal ini dapat diterapkan di perpustakaan Petra untuk ke depannya, karena di zaman ini, hampir semua ilmu bertautan. Tidak mungkin informatika hanya berdiri sebagai informatika saja. Informatika ada untuk memecahkan berbagai permasalahan yang ada di berbagai bidang sehingga proses otomatisasi bisa dimaksimalkan sehingga dapat mempercepat arus informasi.
Mengenai pembahasan tentang bagaimana hal ini dilakukan di ASU, mungkin dalam posting berikutnya bisa saya jabarkan lebih detil. Saya juga tertarik untuk mempelajari lebih dalam bagaimana metode yang mereka terapkan walaupun saya sudah tahu bagaimana garis besarnya.
Pembahasan lebih lanjut dapat ditemukan pada http://lentera.petra.ac.id/ dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net/
Dalam jurnal ini disebutkan bahwa ASU mengembangkan suatu metode pembelajaran menggunakan sebuah software berbasis screen capture. Dan satu hal yang menarik bagi saya, kegiatan ini dilakukan oleh librarians (para pustakawan). Memang dosennya yang melakukan kegiatan perekaman presentasi sambil berbicara menggunakan microphone untuk membuat media pembelajaran ini, tetapi yang ingin saya soroti kali ini adalah peran para pustakawan dalam mengelola media ini.
Jika kita bandingkan dengan kampus kita Petra, mungkin saat ini peran pustakawan dalam bidang ini masih sangat terbatas atau bahkan boleh dibilang tidak ada sama sekali. Kalau kita perhatikan, media-media pembelajaran yang dibuat oleh dosen biasanya dikelola oleh dosen secara pribadi sehingga mahasiswa yang bisa memperoleh informasi hanya mahasiswa yang berada di kelas yang diajar oleh dosen tersebut atau yang mengambil mata kuliah tersebut.
Mungkin penjelasan saya di atas terlalu berbelit, tetapi poin yang ingin saya sampaikan cukup mudah. Intinya, jika para pustakawan yang mengelola media pembelajaran ini, maka media pembelajaran ini akan dapat dilihat dan dipakai oleh semua kalangan. Misalnya saya adalah anak informatika yang ingin membuat program untuk mensimulasikan model jembatan yang kuat. Saya sebagai anak informatika tentu tidak diajarkan bagaimana teknik membuat jembatan yang kuat, demikian pula dosen pembimbing saya dari informatika. Terpaksa mungkin saya harus mencari dosen pembimbing dari jurusan teknik sipil atau berusaha mencari buku-buku yang berhubungan dengan jembatan. Tetapi tentu saja hal ini tidak efektif, karena dengan mempelajari buku, biasanya buku akan membahasnya terlalu detil atau dengan bahasa yang sulit kita mengerti, sedangkan kita baru mengerti isi buku tersebut jika sudah dijelaskan oleh dosen.
Ini adalah poin yang ingin saya sampaikan. Jika para dosen memberikan bahan materinya kepada para pustakawan, maka kita akan dengan mudah bisa mengakses apa yang diajarkan di kelas perancangan jembatan tanpa kita harus mengikuti kelas tersebut, sehingga kita pun bisa belajar sendiri. Walaupun mungkin kita masih tetap memerlukan peran dosen pembimbing.
Dan saya rasa hal ini dapat diterapkan di perpustakaan Petra untuk ke depannya, karena di zaman ini, hampir semua ilmu bertautan. Tidak mungkin informatika hanya berdiri sebagai informatika saja. Informatika ada untuk memecahkan berbagai permasalahan yang ada di berbagai bidang sehingga proses otomatisasi bisa dimaksimalkan sehingga dapat mempercepat arus informasi.
Mengenai pembahasan tentang bagaimana hal ini dilakukan di ASU, mungkin dalam posting berikutnya bisa saya jabarkan lebih detil. Saya juga tertarik untuk mempelajari lebih dalam bagaimana metode yang mereka terapkan walaupun saya sudah tahu bagaimana garis besarnya.
Pembahasan lebih lanjut dapat ditemukan pada http://lentera.petra.ac.id/ dan juga di forum http://www.hima-gospel.forumotion.net/
Jenis Kelamin dan Perpustakaan
Apakah ada pengaruh antara jenis kelamin dan pustakawan? Apakah jenis kelamin berpengaruh dalam kinerja seseorang dalam perpustakaan? Mungkin ini sesuatu yang menarik yang dapat kita bahas dan dikaji lebih jauh.
Data-data yang ada menurut Broader IT Fields dan Association of Research Libraries (ARL) menunjukkan bahwa pria lebih berpengaruh dalam pengembangan IT di perpustakaan.
Data dari Broader IT Fields pada tahun 2003:
Computer and Information Science:
Wanita : 519700
Pria : lebih dari 1360000
Nilai tengah penghasilan:
Wanita : $63000
Pria : $74000
Data dari Association of Research Libraries:
Data jumlah kepala Library Computer System:
Tahun 2004 - 2005:
Wanita : 32 kepala departemen, berpenghasilan $76764, pengalaman kerja 18,9 tahun
Pria : 60 kepala departemen, berpenghasilan $76060, pengalaman kerja 16,9 tahun
Tahun 2005 - 2006:
Wanita : 32 kepala departemen, berpenghasilan $78767, pengalaman kerja 19,4 tahun
Pria : 52 kepala departemen, berpenghasilan $79680, pengalaman kerja 18,4 tahun
Tahun 2006 - 2007:
Wanita : 26 kepala departemen, berpenghasilan $81435, pengalaman kerja 18,2 tahun
Pria : 52 kepala departemen, berpenghasilan $82409, pengalaman kerja 17,6 tahun
Tahun 2007 - 2008:
Wanita : 27 kepala departemen, berpenghasilan $87107, pengalaman kerja 18,8 tahun
Pria : 51 kepala departemen, berpenghasilan $87136, pengalaman kerja 18,8 tahun
Diskusi lebih lanjut dapat dilihat pada forum diskusi http://lentera.petra.ac.id atau juga di forum diskusi http://www.hima-gospel.forumotion.net
Data-data yang ada menurut Broader IT Fields dan Association of Research Libraries (ARL) menunjukkan bahwa pria lebih berpengaruh dalam pengembangan IT di perpustakaan.
Data dari Broader IT Fields pada tahun 2003:
Computer and Information Science:
Wanita : 519700
Pria : lebih dari 1360000
Nilai tengah penghasilan:
Wanita : $63000
Pria : $74000
Data dari Association of Research Libraries:
Data jumlah kepala Library Computer System:
Tahun 2004 - 2005:
Wanita : 32 kepala departemen, berpenghasilan $76764, pengalaman kerja 18,9 tahun
Pria : 60 kepala departemen, berpenghasilan $76060, pengalaman kerja 16,9 tahun
Tahun 2005 - 2006:
Wanita : 32 kepala departemen, berpenghasilan $78767, pengalaman kerja 19,4 tahun
Pria : 52 kepala departemen, berpenghasilan $79680, pengalaman kerja 18,4 tahun
Tahun 2006 - 2007:
Wanita : 26 kepala departemen, berpenghasilan $81435, pengalaman kerja 18,2 tahun
Pria : 52 kepala departemen, berpenghasilan $82409, pengalaman kerja 17,6 tahun
Tahun 2007 - 2008:
Wanita : 27 kepala departemen, berpenghasilan $87107, pengalaman kerja 18,8 tahun
Pria : 51 kepala departemen, berpenghasilan $87136, pengalaman kerja 18,8 tahun
Diskusi lebih lanjut dapat dilihat pada forum diskusi http://lentera.petra.ac.id atau juga di forum diskusi http://www.hima-gospel.forumotion.net
Langganan:
Postingan (Atom)
